Kamis, 13 Mei 2010

Secuil tentang Keadilan

Keadilan adalah suatu hal yang diperlukan dalam kehidupan. Keadilan berasal dari kata dasar adil, mungkin itu adalah kata yang sering terngiang dalam pikiran kita apabila ada suatu hal yang tidak seimbang. Aristoteles yaitu seorang filsuf dari Yunani membagi sifat keadilan menjadi empat macam. Diantaranya adalah keadilan secara distributif, komutatif, kodrat alam, dan konvensional. Keadilan distributif adalah keadilan yang berpusat pada penyaluran yang seimbang antara hak dan kewajiban. Keadilan komutatif adalah keadilan yang berpusat pada kepentingan bersama, kepentingan pribadi tidak menjadi kepentingan utama. Keadilan kodrat alam adalah keadilan yang sesuai dengan hukum alam. Keadilan konvensional adalah keadilan yang mengikat warga negara yang didekritkan pada kekuasaan.Terpintas dalam pikiran kita, makna keadilan adalah sama rata, seimbang atau tidak berat sebelah. Tapi sesungguhnya keadilan adalah suatu posisi dimana antara hak dan kewajiban saling bertemu. Kita boleh menuntut keadilan apabila hak yang kita terima tidak sesuai dengan kewajiban yang kita lakukan. Kerap kali kita egois akan segala sesuatunya, hak yang menjadi orang lain tidak diperhatikan dengan seksama. Ini akan mengakibatkan kontoroversi atau perdebatan yang panjang.Pada umumnya masyarakat menuntut keadilan dari pemerintah dalam kehidupan ekonomi. Tapi apabila kita bertolak dari pengertian keadilan sendiri, apakah seseorang pantas menerima haknya secara lebih apabila seseorang itu tidak menyelesaikan kewajibannya dengan maksimal?. Mari kita lihat fenomena yang ada di Indonesia saat ini.Indonesia merupakan salah satu negara yang tingkat kepadatan penduduknya tinggi. Memang benar bahwa pembangunan di Indonesia tidak merata. Itu merupakan salah satu bentuk fenomena keadilan di negara Indonesia. Banyak hal yang menyebabkan terjadinya ketidakmerataan pembangunan diantaranya adalah tingkat penduduk yang terlalu padat, tingkat pendidikan yang masih rendah, keadaan geografi secara fisik yang berbeda dan moralitas diri sendiri. Tentu yang mendasar adalah terkait moralitas yaitu pembentukan mentalitas dan karakter suatu individu maupun kelompok.Apabila tingkat egoisme dalam diri kita dalam level tinggi, tentu akan sulit menciptakan keadilan yang sejati. Oleh karena itu, mari kita belajar akan keadilan yang sejati. Mari kita bentuk moral hidup kita dalam masyarakat.

Kamis, 29 April 2010

Membentuk diri dengan sikap

Menjadi orang yang murah hati itu tidak mudah. Tentunya kita harus memiliki sikap rendah hati.Kita tidak boleh meninggikan diri sendiri terhadap orang lain.Apabila hal tersebut kita lakukan, kita tidak akan bisa menjadi orang yang rendah hati. Kita akan menjadi pribadi yang angkuh, meremehkan segala sesuatu. Terkadang kita sulit menerima kekurangan yang ada pada diri kita maupun orang lain. Kita menuntut diri kita maupun orang lain agar sempurna sesuai apa yang kita inginkan. Dengan begitu akan kita akan sulit menjadi orang yang dewasa. Orang yang dewasa adalah orang yang mampu mengenali kepribadian dirinya secara matang, berani menerima kekurangan yang ada dalam dirinya, mampu membedakan mana perbuatan yang baik dan tidak baik. Menjadi dewasa adalah sebuah pilihan dalam hidup. Dalam hal ini seseorang dituntut untuk bisa bijaksana, rendah hati dan murah hati. Dengan sikap tersebut seseorang mendapatkan kebahagiaan dalam hidup. Terkadang kita sering tidak sadar dengan apa yang kita lakukan. Kita sering egois yaitu suatu sikap yang hanya mementingkan kepentingan diri kita sendiri. Kita sering tidak memikirkan perasaan atau keadaan orang lain. Apakah kita puas melihat orang lain yang menderita?
Kesempatan! Ya itulah sesuatu yang harus diberikan kepada sesama kita yang terkadang sulit untuk menunjukkan eksistensi dirinya terhadap publik.Dengan memberikan kesempatan kepada sesama kita berarti kita mampu berbagi dengan sesama maupun Tuhan sendiri.Memang kita sulit untuk membagi kesempatan kepada sesama.Justru malah terkadang kita berlomba-lomba berebut kesempatan. Ini merupakan tanda bahwa kita adalah manusia yang tidak pernah puas, segala sesuatunya tidak pernah disyukuri secara bijaksana.

Sabtu, 24 April 2010

DEUM PER NATURAE AMAMUS

Merupakan pengalaman menarik ketika harus menjadi ketua panitia dalam rangka rekreasi komunitas Seminari Wacana Bhakti yaitu mendaki gunung Gede-Pangrango, Cibodas, Jawa barat. Acara yang berlangsung pada tanggal 21-23 April 2008 ini sungguh sebagai moment yang menyenangkan. Acara ini ditangani sendiri oleh anak-anak pecinta alam Seminari Wacana Bhakti yaitu AMASON. Organisasi ini mempunyai kepanjangan yaitu Amatorum Societas Naturae yang artinya kelompok pecinta alam. Organisasi ini dibentuk dalam naungan Seminari Wacana Bhakti.
Sebagai ketua acara ini, banyak persiapan yang harus saya lakukan sehingga acara tersebut dapat berjalan dengan lancar. Awal persiapan yang saya lakukan adalah menyusun proposal untuk acara ini dan mendata komunitas Seminari Wacana Bhakti yang ingin mengikuti acara rekreasi tersebut.
Saya merasa sibuk sekali akan acara tersebut. Memang bukanlah hal yang mudah untuk mengatur jalannya acara tersebut agar berjalan dengan lancar. Saya sendiri harus sibuk untuk mencari dan menyewa tronton untuk pergi ke Cibodas. Ini merupakan tanggung jawab yang besar bagi diri saya menjadi ketua panitia acara tersebut. Banyak hal yang saya alami dalam persiapan entah saya harus pergi kesana untuk registrasi dan survey tempat. Ini merupakan bagian dari tanggung jawab untuk mengurusi acara tersebut.
Akhirnya pun pada tanggal 21 April 2008 kami para seminaris dan beberapa frater pergi ke Cibodas untuk hiking bersama. Sangat menegangkan ketika harus menunggu satu orang lagi yang baru pulang dari Panti asuhan Vincentius Putera yaitu adik kelas saya ketika SMP. Kami pergi dengan menggunakan dua buah truk tronton milik Kopasus. Sebelum kami berangkat hujan pun tiba tetapi tetap saja kami semua melanjutkan perjalanan.
Selama perjalanan menuju Cibodas kami terpaksa menutup pintu bagian belakang mobil agar terhindar dari air hujan. Perjalanan pun ditempuh selama dua jam, dalam perjalanan itu kami merasa kedinginan ketika harus melewati daerah puncak. Dalam suasana yang dingin itu pun beberapa teman seminaris ada yang merokok untuk menghangatkan badan. Merokok bukan menjadi larangan ketika kami semua berada di tempat yang dingin, lagipula saya sebagai ketua acara ini sudah meminta izin kepada romo Rektor agar kami diizinkan merokok ketika sampai di Cibodas.
Hujan pun senantiasa menemani kami selama perjalanan dari Jakarta sampai cibodas. Akhirnya kami tiba disana dan ternyata hujan pun masih turun dengan deras. Pakaian kami pun basah dan kami semua berteduh di sebuah warung yang namanya “Warung Ema”. Anak-anak yang mendaki gunung biasa singgah di sana untuk makan. Makanan yang dijual disana pun relatif murah.
Kami para seminaris yang ingin mendaki gunung makan disana dan menginap semalam di warung itu. Sampai disana kami langsung makan malam sementara itu saya dan beberapa teman seminaris mendaki terlebih dahulu. Selama perjalanan menuju tempat camp yaitu Kandang Badak, saya dan beberapa teman saya merasa kedinginan tetapi rasa dingin itu bias kami hadapi selama perjalanan.
Kami menempuh perjalanan dalam keadaan gelap hanya dengan tiga buah senter yang menerangi jalan kami. Memang sangat menantang bisa mendaki malam, selain melatih mental, fisik pun akan terlatih dengan baik. Perjalanan yang kami tempuh kurang lebih enam jam. Kami berangkat dari pukul 19.00 sampai 23.30 malam. Kegelapan menyelimuti kami selama menempuh perjalanan dari bawah hingga ke atas yaitu Kandang Badak.
Sampai di sana kami langsung mendirikan tenda dan bersiap untuk istirahat. Sebelum istirahat kami makan malam dulu sehingga kami dapat tidur dengan nyaman. Dalam keadaan yang dingin tentu saja kami membutuhkan energi serta kalori yang begitu banyak. Untung saja kami bawa makanan yang manis seperti coklat dan gula merah. Udara terasa sangat dingin sekali tetapi kami menggunakan sleeping bag untuk tidur sehingga terasa hangat.
Pagi pun tiba dan saya malakukan pemanasan agar tubuh terasa hangat. Ternyata saya bangun pada pukul 10.00 pagi dan saya menanti rombongan kedua yng sedang dalam perjalanan. Saya dan teman-teman lainnya membuat sarapan agar bisa mengisi energi yang telah hilang. Khirnya pada pukul 11.00 rombongan kedua dari seminari datang, mereka sungguh kelelahan dan kehausan. Mereka datang dan sampailah di Kandang Badak. Mereka langsungmendirikan tenda dan setelah itu kami semua langsung melanjutkan pendakian ke gunung Pangrango. Perjalanan ditempuh kurang lebih selama 2 jam. Medan yang dilewati pun cukup menantang dan menyulitkan. Setelah mendaki gunung pangrango kami kembali ke tempat camp ketika sore menjelang malam. Akhirnya kami makan malam dan kami membuat kopi agar bisa mengahngatkan tubuh kami.
Ternyata pada hari itu saya berulang tahun yang ke 17 yaitu pada tanggal 22 April. Saya merasa bahagia sekali bisa merayakan ulang tahun saya di gunung. Pada keesokan harinya kami mulai packing barang-barang dan harus turun lagi. Tetapi pada pagi hari kami mencoba melihat sunrise dari puncak gunung Gede tetapi terhalang oleh kabut sehingga kita tidak dapat menikmati sunrise. Akhirnya kami turun pada siang hari, kami mengangkut sampah yang ada di jalan. Sampai di bawah kami makan malam dan kami kami kembali ke seminari lagi. Kami sangat lelah dan letih.
Dari acara ini kita bisa belajar untuk mencintai Tuhan lewat alam seperti semboyan AMASON yaitu “Deum Per Naturae Amamus”.

Menjadi Pribadi yang Tangguh....


Ini merupakan sebuah pengalaman yang ditempuh selama setahun dan seterusnya.
AMASON merupakan kelompok pecinta alam yang berada dalam naungan seminari. Dengan semboyan Deum Per Naturae Amamus yang artinya mencintai Tuhan melalui alam, mereka selalu berjalan dalam naungan Tuhan. Kelompok pecinta alam ini mempunyai ayat pegangan yaitu Mazmur 23, Mazmur 27, dan Yesus bin sirakh 2 : 1-4. Ayat-ayat tersebut sudah menjadi pegangan setiap anggota AMASON. Salah satu tujuan kelompok ini dibentuk adalah membina panggilan yaitu dengan membantu mengolah panggilan lewat kegiatan alam.
Aku sendiri adalah seorang anggota dari kelompok pecinta alam seminari ini. Pada tahun pertama di seminari aku menyelesaikan kaderisasai menjadi anggota kelompok ini. Dengan semangat dan motivasi yang kumiliki akhirnya pun aku bisa menjadi salah satu anggota dari kelompok pecinta alam ini. Memang tahap kaderisasi AMASON dibgai menjadi tiga tahap yaitu prakaderisasi, semikaderisasi, dan pelantikan. Awalnya empat orang yang mengikuti proses kaderisasi yaitu diriku dan tiga temanku tetapi pada akhirnya hanya tersisa dua yang dilantik menjadi amason. Memang ini adalah sebuah proses seleksi yang cukup ketat sama halnya dengan perjalanan panggilan sebagai calon imam yang sedang kutempuh. Menjadi amason bagiku merupakan panggilan yang tidak dimiliki oleh semua teman-temanku lainnya. Banyak pengalaman yang kutemukan selama proses kaderisasi meupun setelah menjadi anggota kelompok pecinta alam ini. Kedisiplinan, tangggung jawab, rasa menghargai, dan kekeluargaan merupakan hal-hal yang dibangun dalam organisasi ini. Kekeluargaan yang dibangun dalam organisasai ini sangat erat, bisa dikatakan bahwa kita sebagai keluarga harus bisa untuk sehati dan sejiwa. Aku bangga menjadi seorang anggota kelompok ini. Kepribadianku pun terbentuk dalam organisasi ini. Pengetahuanku mengenal alam pun semakin bertambah. Secara fisik, aku menjadi sehat dengan latihan fisik yang diberikan. Secara psikologis, mentalku menjadi semakin percaya diri dan tidak takut akan tantangan yang kuhadapi pada nantinya.Bagiku organisasai ini memberikan dampak yang positif bagi pengolahan panggilan maupun sikap yang ditumbuhkan pada masyarakat nantinya. Survive itulah yang diajarkan, aku dituntut untuk bisa mandiri, dewasa, bertahan hidup dalam kesulitan, mampu berpikir cerdas atau tidak ceroboh dalam bertindak. Kemampuan untuk berpikir cepat dengan meminimalkan resiko yang ada pun dilatih. Memang menjalani proses kaderisasi selama satu tahun tidaklah mudah, perlu perjuangan dan semangat yang besar. Bagiku ini sama halnya dalam proses panggilan yang tidak mudah untuk dijalani. Tantangan pasti selalu ada dalam hidup maupun dalam proses panggilan. Kemampuan untuk survive sangat diperlukan. Setiap hal yang kulakukan pun kurefleksikan untuk memperbaiki diriku semakin magis atau menjadi lebih baik lagi.

Kedatangan Motivator...

Suatu hari di tengah kesibukan ujian blok (mid semester), para seminaris mengikuti rekoleksi. Biasanya setiap kali rekoleksi yang membawakan adalah para rohaniwan khusunya, para frater, imam tetapi rekoleksi kali ini dibawakan oleh awam. Rekoleksi ini dilaksanakan dalam dua hari yang dimulai pada hari sabtu sore dan berakhir pada hari minggu siang. Rekoleksi ini sungguh berbeda dari rekoleksi biasanya. Dalam rekoleksi ini awam tersebut menyertainya dengan game dan film sebagai hiburan. Mungkin kegiatan ini bisa dikatakan bukan rekoleksi melainkan seminar mengenai “Sejauh mana kehidupan studiku saat ini?”. Orang yang membawakan rekoleksi tersebut adalah Stephanus Rizal yaitu seorang motivator di Indonesia yang sukses seperti Mario Teguh. Ia didampingi oleh satu rekannya yang juga sedang belajar bagaimana menjadi seorang motivator yang handal. Kali ini ia membagikan pengalaman suka maupun duka mengenai hidupnya. Sesungguhnya ia ingin mengajak para seminaris untuk tetap selalu bersemangat dan selalu bersyukur dalam menjalani hidup dan panggilan sebagai calon imam serta studi yang sedang dihadapi.
Mad (Make a difference,) itulah kata yang diungkapkan olehnya kepada kami para seminaris. Tentunya, kita sebagai pribadi harus mampu berbuat sesuatu yang berbeda dan tentunya harus positif serta tidak merugikan orang lain. “Pak Rizal” ,begitulah panggilannya. Tuhan memanggil dia untuk menjadi motivator . Dalam rekoleksi ini ia menunjukkan berbagai film yang bertujuan agar kita selalu bersyukur kepada Tuhan atas kehidupan yang telah DIA berikan.
Kemudian pak Rizal menunjukkan suatu aksi kepada para seminaris yaitu menjatuhkan bohlam lampu pada keramik dalam sebuah kotak. Kami terkejut bahwa bohlam itu tidak pecah. “kok bisa?” ,ungkap dalam pikiran kami masing-masing. Akhirnya seorang seminaris mencoba untuk menjatuhkan bohlam pada keramik. Awalnya bohlam selalu pecah ketika dijatuhkan tetapi pada percobaan yang kesekian kalinya bohlam tersebut tidak pecah ketika dijatuhkan. Sesungguhnya apa yang bisa membuat bohlam yang dijatuhkan tersebut tidak pecah?. Jawabannya adalah yaitu dengan kekuatan pikiran dan keyakinan dari dalam diri kita. Bagaimana kita membentuk mind set kita terhadap sesatu yang yang dilakukan?. Yang diperlukan adalah sebuah keyakinan bahwa kita bisa melakukan sesuatu yang kita anggap sulit. Jangan pernah ada keraguan dalam bertindak, karena terkadang keraguan membuat kegagalan terhadap apa yang kita lakukan. Ia juga mengungkapkan bahwa kita harus mempunyai impossible dream yaitu sesuatu yang tidak mungkin kita raih. Tetapi dari hal itu kita bisa terus bersemangat untuk meraih yang kita inginkan tersebut . Dan yang menjadi motivator bagi diri kita adalah diri kita sendiri, apakah kita mau atau tidak untuk meraih apa yang menjadi keinginan dan harapan kita. Dan yang menjadi dasar adalah penyerahan diri dan kepercayaan kita terhadap Tuhan bahwa DIA senantiasa memberikan yang terbaik bagi hidup kita.

Durian Rp 5000

Januari merupakan bulan pertama dalam satuan tahun. Awal tahun yang penuh sukacita selalu membawa harapan pada diri kita masing-masing. Harapan yang selalu menuju kesuksesan dalam hidup. Sukses dalam arti, mampu mewujudkan apa yang dicita-citakan dan membentuk pribadi yang berkualitas, serta mampu menjadi teladan bagi orang lain.
Suatu malam, dua orang seminaris ingin pergi ke sebuah tempat foto copy untuk menjilid beberapa laporan ilmiah para seminaris kelas tiga. Dua orang seminaris tersebut bernama Edu dan Hena, layaknya panggilan di seminari. Mereka pun meminta izin kepada salah satu frater. Perizinan pun diberikan oleh frater , kemudian mereka segera pergi ke sebuah tempat foto copy yang tidak jauh dari seminari tempat kami tinggal. Tibalah mereka di sebuah tempat foto copy dan ternyata tempat tersebut tutup. Dengan perasaan terpaksa mereka harus mencari tempat foto copy lain. Untungnya, mereka tahu dimana tempat foto copy lainnya berada. Tibalah mereka di tempat foto copy yang kedua, ternyata tutup juga.
“Apes nih kita” , tutur Hena.
“Na, gimana kalau kita pergi ke tempat foto copy di Ampera?” ,tanya Edu.
“Jauh donk, okelah kalau begitu” ,jawab Hena.
Sesuai dengan kesepakatan mereka pergi ke Ampera untuk mencari tempat foto copy berikutnya. Dalam perjalanan, mereka saling berbagi cerita pengalaman. Mereka saling tukar pikiran layaknya orang berideologi. Tibalah mereka di tempat foto copy berikutnya dan ternyata tutup juga.
“Aduh sial banget sih, lagi-lagi tutup” , tutur Hhena (sambil mengusap wajah yang penuh keringat).
“Ya mau gimana lagi na?” , seru Edu.
“Du gimana kalau kita jalan lagi sampai Cilandak?” usul hena.
“Okelah kalau begitu” ,jawab Edu.
Hiruk-pikiuk jalanan membuat mereka putus asa mencari tempat foto copy. Akhirnya mereka kembali berjalan mencari tempat foto copy berikutnya. Debu yang bercampur keringat mengiringi mereka berjalan. Ketika mereka sedang berjalan, di seberang jalan mereka melihat penjual durian dengan harga murah.
“Du gimana kalau nanti kita beli durian setelah menjilid?” ,tanya Hena.
“Ya udah nanti kita patungan aja” ,jawab Edu.
“Ya udahlah, yang terpenting kita jilid dulu ini makalah” ,tutur Hena.
Mereka kemudian berjalan kembali dan akhirnya mereka menemukan sebuah tempat foto copy yang masih buka. Mereka pun segara member laporan ilmiah mereka untuk dijilid. Selesai dijilid mereka membayar biaya penjilidan kepada tukang foto copy tersebut.
“Murah juga ya du, hanya Rp 2500 setiap satuannya” ,sahut Hena.
“Itu mah standar na” ,tutur edu.
“Ya udah sekarang kita pulang ke seminari” ,tutur Edu.
“Ntar dulu lah, kita aja belum beli durian” ,tutur Hena.
“Owh iya ya, sorry gw lupa” ,tutur edu (sambil tertawa).
Mereka berjalan kembali ke arah sebaliknya. Kemudian mereka menghampiri penjual durian dan melihat-lihat durian mana yang bagus. Dengan keahlian yang tidak seberapa mereka memilih durian yang harganya Rp 5000. Mereka akhirnya membeli dua buah durian. Dengan perasaan riang mereka membawa durian itu pulang ke seminari. Selama perjalanan pulang banyak orang-orang di jalan yang melihat ke arah mereka. Mereka dengan cuek tetap berjalan dengan perasaan riang. Tibalah mereka di depan pos satpam seminari.
“Waduh enak tuh durian” ,sahut pak satpam.
“Iya nih pak, lagipula harganya juga murah cuma Rp 5000” ,sahut hena (sambil promosi).
Mereka akhirnya membawa pulang durian ke unit 1 dimana mereka tinggal. Mereka pun membangunkan teman-teman angkatannya untuk makan durian bersama. Di sana pun ada Vano, Bekti, Almo, dan Carol yang lagi demam durian. Dengan penuh semangat mereka turun dari kamar untuk makan durian.
“Kita buka yang ini dulu ya” seru Hena.
“Ya udah” ,jawab Vano (dengan tidak sabar).
Durian pertama rasanya lumayan enak meskipun harganya cuma Rp 5000. Kemudian mereka mulai membuka durian yang kedua.
“Waduh kulitnya masih keras nih” ,tutur Edu (sambil mencoba membuka).
“Ini mah masih keras tau” ,sahut Bekti.
“Berarti nggak kita makan donk nih durian” ,sahut Edu.
”Ya sia-sia donk beli yang satu ini” ,sahut Hena.
“Ya udahlah namanya juga durian seharga Rp 5000” ,sahut Carol.
“Kalau mau enak ya durian montong seharga Rp 40.000” ,sahut vano.
Melihat durian yang matang dan yang belum matang mereka menyimpulkan bahwa ini ini sama halnya dengan kepribadian orang yang dewasa dan belum dewasa. Mereka menyimpulkan bahwa pribadi yang dewasa adalah pribadi yang mampu membuka dirinya terhadap segala sesuatunya, terlebih terhadap panggilan dari Tuhan sendiri kepada umatnya. Hal itu sama dengan durian yang matang yang mudah dibuka dan bisa dimakan. Sebaliknya bahwa pribadi yang belum dewasa adalah pribadi yang belum membuka dirinya secara dalam terhadap segala sesuatunya terlebih panggilan dari Tuhan sendiri. Makanya hal tersebut sama dengan durian yang belum matang belum matang yang masih keras untuk dibuka. Ditambah masih memerlukan waktu yang lama untuk menjadi matang atau kemampuan seseorang untuk menjadi dewasa dalam menanggapi panggilan dari Tuhan.

Minggu, 10 Januari 2010

Hidup adalah Anugerah..


Aku dan Keluarga

Aku lahir di Jakarta pada tanggal 22 April 1991. Aku merupakan keturunan Flores. Ayahku adalah orang Flores dan ibuku merupakan keturunan Sunda. Aku merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Ayahku kini berumur 58 tahun dan ibuku berumur 41 tahun, bisa dikatakan bahwa mereka mempunyai perbedaan umur yang cukup jauh yaitu 17 tahun. Dalam keluargaku rasa persaudaraan sangat erat sekali. Ayahku yang merupakan keturunan Flores mempunyai hubungan yang sangat baik dengan saudara-saudaranya, sama halnya dengan ibuku yang keturunan Sunda. Aku bangga mempunyai orangtua seperti mereka karena mereka menyayangiku.
Dalam keluarga aku adalah anak laki-laki tertua sebelum dua orang adikku. Hubunganku dengan kedua orangtua sangat baik, ketika masih kecil aku sangat dekat dengan ayahku. Ayahku selalu mengajakku ketika ia harus bekerja atau mengunjungi suatu proyek. Ayahku merupakan tipe orang pekerja keras dan keras kepala. Mungkin aku sama dengan dirinya, tetapi aku seorang yang sabar sama seperti ibuku. Aku mempunyai satu kakak dan dua adik yang kusayangi. Waktu kecil hubunganku dengan kakakku kurang harmonis, aku selalu betengkar dengannya. Sampai saat ini aku mempunyai hubungan yang baik dengannya. Ia sudah menjadi kakak yang baik dan dewasa. Aku mempunyai adik perempuan dan laki-laki, hubunganku dengan mereka sangat baik. Aku berusaha menjadi kakak yang baik untuk mereka.
Aku berharap mereka dapat sukses dalam menjalani kariernya di masa depan nanti. Ketika aku kecil, aku selalu pergi ke gereja dengan orang tuaku. Dahulu ayahku seorang ketua lingkungan, aku sering disuruh olehnya untuk memberi kabar kepada orang-orang kalau ada ibadat rosario atau ibadat lainnya. Keaktifanku dalam hal itu membuat diriku menjadi dikenal oleh banyak orang-orang. Aku bersyukur dengan keadaan keluargaku sampai saat ini. Mereka semua tetap harmonis dalam berhubungan sebagai satu keluarga.



Masa Sekolah dan Pergaulanku

Aku memulai pendidikan kanak-kanak di sekolah Nusa Melati. Kemudian aku melanjutkan pendidikan dasar di sekolah Nusa Melati juga. Awalnya aku takut untuk bersekolah karena aku takut berpisah dengan orang tua. Ternyata sekolah itu tidak berpisah dengan orang tua saat aku merasakan sekolah itu bagaimana. Di sekolah teman-teman menyukai kepribadianku, mereka juga menyukai sifatku. Ketika bersekolah aku di jenjang pendidikan dasar aku dikenal sebagai anak yang pemalu. Terkadang aku sok dewasa diantara mereka.
Lulus dari jenjang pendidikan dasar, aku melanjutkan sekolah di SMP Sint Joseph. Memang sekolah ini terkenal dengan anak-anak yang suka berkelahi (tawuran) dengan sekolah lain. Aku disekolahkan di sana bukan karena keinginanku tetapi karena keadaan ekonomi keluargaku yang rendah. Aku mengorbankan keinginanku untuk sekolah yang berstandar nasional. Aku takut akan hidup asrama karena hidupnya begitu keras. Sejak itu aku menjadi anak panti asuhan Vincentius Putera karena aku tinggal di asrama. Selama tinggal di panti aku merasa tidak nyaman. Perasaan tidak nyaman itu diakibatkan oleh teman-temanku. Aku sering sekali dilecehkan ataupun dibuat sakit hati. Bisa dikatakan bahwa asrama itu seperti hutan rimba. Di sana ditanamkan hukum rimba ”Siapa yang kuat dia yang menang”. Aku menyadari bahwa diriku lemah. Aku bukanlah orang yang kuat dan berani untuk mengatsi konflik ataupun permasalahan yang ada. Perasaan sakit hati telah menumpuk selama aku tinggal di panti asuhan. Terkadang aku ingin menangis dan mengumdurkan diri dari asrama tersebut. Aku tidak tahan dengan sikap teman-temanku. Aku berdoa kepada Tuhan agar aku dikuatkan. Diantara teman-temanku, ada anak yang baik. Ia mau menjagaku dari teman-teman yang nakal. Sampai saat ini pun aku menjadi sahabat dekat dengannya. Kami sangat akrab bila bertemu. Untungnya aku mempunyai potensi dalam bidang akademik. Ketika SMP aku bisa dikatakan sebagai orang yang pandai. Dengan kepandaian itulah aku bisa mengajari temanku sehingga mereka juga baik terhadapku. Aku merupakan anak yang berprestasi. Aku pun aktif dalam kegiatan OSIS, di sana aku menjadi seksi di bidang rohani. Aku merupakan anak yang tidak banyak tingkah laku. Aku juga merupakan orang yang penurut. Selama tinggal di panti hiduku rohaniku lebih baik. Aku bisa berdoa pagi, menddengarkan renungan dari pengasuh pada pagi hari. Aku merasa bersyukur bisa dekat dengan Tuhan.Selama tinggal di panti aku mengenal bagaimana hidup itu, hidup yang keras dan penuh tantangan. Bagiku ini merupakan pengalaman yang istimewa dan berbeda dengan teman-temanku yang lain.
Usai pendidikan SMP, aku melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu masuk dalam pendidikan calon imam. Aku masuk Seminari Menengah Wacana Bhakti. Sesungguhnya aku tidak punya keinginan untuk menjadi imam. Entah kenapa Tuhan memberikan jalan ini kepadaku. Di sinilah aku mencoba mengolah panggilanku menjadi seorang imam. Aku mulai banyak belajar beradaptasi dengan keadaan seminari. Di sinilah aku menemukan siapa diriku, aku lebih mengenal diriku secara dalam. Aku pun mulai memahami karakter banyak orang. Aku di sini belajar untuk memfokuskan diriku pada Tuhan. Aku merasa bahagia dapat tinggal di seminari ini. Aku bahagia dengan kehadiran teman-teman komunitasku. Aku merasakan ada perbedaan suasana dengan teman-teman komunitasku di panti ashuhan. Aku pun mulai meningkatkan hidup rohaniku, aku meningkatkan hidup doaku terhadap Tuhan. Dengan modal inilah aku bisa hidup dan dapat hidup pada jalan kebenaran. Di seminari ini pula aku mengembankagn diriku menjadi pribadi yang dewasa dan lebih matang.

Aku dan Hidup Menggerejawi

Dari kecil aku dibina sebagai orang katolik. Ayahku seorang katolik dan sebelum menikah ibuku seorang kristen Pasundan. Tetapi akhirnya ibuku menjadi katolik dan menikah dengan ayahku. Aku dibaptis ketika masih kecil, umur satu tahun. Aku tumbuh menjadi anak katolik. Aku dibesarkan dalam lingkungan yang dihuni oleh orang-orang katolik. Aku dikenal sebagai orang yang ringan tangan. Ayahku seorang ketua lingkungan, aku sering disuruh olehnya untuk memberi kabar kepada orang-orang kalau ada ibadat rosario atau ibadat lainnya. Aku pun sering mengikuti ibadat di lingkungan. Keaktifanku dalam kegiatan itu membuat diriku menjadi dikenal oleh banyak orang-orang. Biasanya aku gereja seminggu sekali sebagaimana anak remaja pada umunya.
Ketika di panti setiap jumat pertama aku pergi ke gereja. Aku bukanlah anak yang aktif dalam kehidupan menggereja. Aku bukanlah seorang misdinar seperti teman-temanku di seminari. Dahulu aku adalah pemazmur kecil sejak kelas empat SD. Aku bersyukur kepada Tuhan karena aku diberi suara untuk memuji-Nya. Di lingkungan rumah aku pun terlibat dalam mudika tetapi tidak begitu aktif. Di asrama Vincentius Putera aku hanya terlibat dalam paduan suara anak-anak panti. Aku bukanlah seorang misdinar ketika di paroki Hati Kudus, Kramat. Aku bersyukur karena di dalam asrama aku masih diberi hidup doa oleh pengasuh yaitu sebuah renungan sebelum sarapan pagi. Aku pun bersyukur bahwa aku bisa menjadi anak yang rajin berdoa sebelum tidur. Di seminari aku memulai untuk meningkatkan hidup rohaniku. Aku mulai dengan doa pribadiku secara rutin. Di sini pun terkadang aku berdevosi kepada Bunda Maria. Setiap hari aku selalu menyediakan waktuku untuk Tuhan. Di dalam kesulitan pun aku berdoa kepada-Nya agar diberikan rahmat untuk bisa keluar dari kesulitan yang kualami. Aku pun menjadi aktif di seminari ini. Aku bisa belajar banyak untuk meningkatkan hidup rohaniku.
Dalam hidup doa yang kulakukan, aku merasa ada kedekatan dengan Tuhan. Aku yakin bahwa segala sesuatu yang diberikan oleh-Nya itu merupakan hal yang terbaik bagi diriku. Sampai saat ini tepatnya di kelas tiga, aku memfokuskan diriku terhadap hidup rohani. Bagi hidup rohani merupakan dasar yang harus dimiliki setiap manusia. Dan semoga aku pun dapat selalu bersyukur terhadap apa yang terjadi dalam hidupku.

Aku dan Kepribadianku
Memahami diri sendiri bukanlah hal yang mudah, sesorang perlu melihat secara dalam perjalanan hidup telah yang dilalui. Sejauh mana aku memahami kepribadianku? Ketika kecil aku adalah anak yang pemalu, aku merupakan anak yang berbakti kepada orang tua. Aku terkadang merasa seperti jagoan, orang yang berkuasa. Sifat-sifat itu kualami ketika aku masih duduk di bangku SD.
Memasuki jenjang SMP, aku pun masih pemalu terhadap sesuatu yang menjadi keinginanku. Dengan wanita pun aku merasa malu, aku tidak tahu kenapa?. Aku belum bisa memahami diriku. Aku terkadang takut dengan wanita. Sampai saat ini pun aku belum pernah mengalami pacaran. Aku memang suka terhadap wanita tetapi aku tidak berani mengungkapkan perasaan yang kualami itu. Pergaulanku dengan wanita memang kurang, aku lebih terfokus untuk belajar mewujudkan masa depanku. Lagi pula pergaulanku dengan wanita sangat kurang. Aku berkomunikasi dengan mereka pun kalau ada sesuatu yang berhubungan dengan pelajaran atau hal penting lainnya. Tetapi ketika bergabung dengan teman-teman Gonzaga aku menjadi tempat curhat bagi mereka yang membutuhkan bantuan dalam permasalahan yang teman-temanku alami. Kedekatanku dengan siswi-siswi Gonzaga kujadikan pelajaran untuk menggembalakan umat pada nantinya. Aku belajar bagaimana memahami perasaan seorang wanita. Aku belajar banyak hal dari pengalaman teman-temanku di Gonzaga. Mataku telah terbuka terhadap apa yang sedang dialami banyak orang masa kini. Dalam masa pubertas aku pun mengalami yang namanya mimpi basah. Pertama kali aku mimpi basah terjadi ketika usiaku 11 tahun atau ketika aku masih duduk di bangku kelas enam SD. Awalnya aku tidak mengerti akan apa yang kualami, tapi aku bertanya kepada orang tuaku. Mereka menjelaskan bahwa aku sudah bisa tumbuh menjadi dewasa. Dalam masa remaja yang kujalani aku mengenal yang namanya masturbasi. Aku mengenal tindakan semacam itu dari teman-temanku di asrama Vincentius Putera. Aku pun mengalami hal semacam itu tetapi aku tidak menjadikan hal tersebut menjadi sesuatu yang adiktif. Untuk menghindari hal semacam itu pun aku menggunakan waktuku untuk melkukan tindakan lain yang bisa mengembangkan diriku. Aku selalu berdoa kepada Tuhan agar bisa diberikan kekuatan terhadap godaan-godaan yang ada.
Masuk seminari aku mulai mengolah memulai persaudaraanku dengan teman-teman komunitasku. Aku dikenal sebagai orang yang keras, tegas dan cuek. Tetapi sesungguhnya aku pun orang yang bisa dipengaruhi oleh orang lain apabila aku bisa merasa nyaman. Banyak hal yang kulakukan di seminari ini, sikap positif maupun sikap negatif (kenakalan seminaris). Aku mengalami banyak hal ditempat ini. Dari pengalaman yang negatif aku belajar untuk mengambil makna positif bagi perkembangan diriku. Memasuki tahun kedua di seminari hidupku tidak terarah lagi. Sikapku menjadi urakan maupun tidak mempedulikan apa yang terjadi pada diriku dan orang lain. Setiap kesalahan yang dilakukan kurenungkan dan kurefleksikan. Aku bersyukur karena Tuhan masih senantiasa membimbingku pada jalan yang benar. Meskipun sikapku buruk tetapi aku mau berubah dan mau untuk memperbaikinya. Aku bukanlah orang yang mudah menyerah untuk memperoleh kebenaran.
Di seminari ini pun aku mempunyai prinsip bahwa aku harus membuka diriku terhadap orang lain. Aku tidak suka apabila ada sesuatu yang disembunyikan di belakangku. Aku pun belajar untuk bersikap jujur terhadap diriku dan orang lain. Aku merasa dengan kejujuran itu hidupku lebih nyaman dan bisa terorientasi dengan jelas. Di Gonzaga aku dikenal teman-teman sebagai orang yang sombong maupun cuek. Aku menyadari bahwa aku bukanlah orang yang seperti itu, tapi aku mencoba untuk belajar menjadi lebih dewasa. Dengan kepribadian yang matang aku pun bisa tampil di depan orang lain dengan lebih berani. Bagiku semua ini adalah proses yang perlu dijalani dan disyukuri. Segala pengalaman akan menjadi guru yang lebih baik untuk membentuk pribadiku yang matang.

Paris Description as the one place in the World

1. Generic structure

• Identification: Paris is the capital of France and the country's largest city.
• Description
1. Location: Paris is located in the north-bending arc of the river Seine and includes two islands, the Île Saint-Louis and the larger Île de la Cité, which form the oldest part of the city.
2. Population: The city of Paris within its administrative limits (largely unchanged since 1860) has an estimated population of 2,167,994 (January 2006). The Paris unité urbaine (or urban area) extends well beyond the administrative city limits and has an estimated population of 9.93 million (in 2005).The Paris aire urbaine (or metropolitan area) has a population of nearly 12 million, and is one of the most populated metropolitan areas in Europe.
3. Image : An important settlement for more than two millennia, Paris is today one of the world's leading business and cultural centers, and its influence in politics, education, entertainment, media, fashion, science and the arts all contribute to its status as one of the world's major global cities.

2. Language Features
• Specific Participant : Paris
• Atribute and Identifying processes: Larger, oldest, lowest, highest, relatively, nearly, popular, biggest. Important.
• Nominal Function: the larger ÃŽle de la Cité, the country's largest city, the lowest elevation, the highest is Montmartre, biggest city, popular tourist.
• Simple Present :
1. Paris is the capital of France and the country’s largest city.
2. Paris is located in the north-bending arc of the river Seine.
3. Paris is one of the most popular tourist destinations in the world.
4. There are numerous iconic landmarks among its many attractions, along with world-famous institutions and popular parks.
5. Paris is today one of the world's leading business and cultural centers, and its influence in politics, education
3. Glossary:
• Region : daerah
• Prominent : terkemuka
• Annexation : penggabungan
• Destination : tujuan
• Expanded :dikembangkan
• Numerous : banyak
• Notably : khususnya
• Flat : rumah petak bertingkat
• Limits : batas
• Estimated : perkiraan

Orang yang terpanggil menjadi Saksi Allah...


SEJARAH PANGGILAN


Panggilan merupakan sebuah misteri yang tidak diketahui oleh manusia, apalagi panggilan sebagai calon imam. Menjadi seorang imam merupakan suatu anugerah yang diberikan Tuhan kepada manusia yang telah dipilih oleh Tuhan sendiri. Setiap orang mempunyai panggilan yang berbeda-beda, sehingga disebut dengan Personal Vocation.
Ketertarikanku menjadi imam melekat pada diriku sejak aku duduk di bangku SD kelas empat. Keinginan menjadi seorang imam termotivasi dengan sosok imam yang bertugas di parokiku. Ketika kelas enam SD panggilan menjadi seorang imam pun sudah tidak terlalu lekat pada diriku lagi, meskipun teman-teman di SD mendukungku untuk menjadi seorang imam.
Aku melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Aku memasuki hidup yang berbeda yaitu di asrama yaitu Panti Asuhan Vincentius Putera. Di asrama aku memulai hidup mandiri. Awalnya aku merasa berat dan bosan untuk menjalani segala kegiatan yang ada. Dukungan teman-teman senantiasa menguatkan diriku untuk tetap bertahan dan krasan. Bagiku ini tidaklah mudah untuk menjalani kehidupan di asrama yang isinya anak laki-laki dengan berbagai macam latar belakang keluarga yang berbeda.
Kelas satu SMP aku sudah tidak memikirkan lagi panggilan menjadi seorang imam. Aku hanya menjalani kehidupan sebagai remaja pada umumnya. Aku sungguh menikmati masa remaja di sekolah. Banyak pengalaman yang kudapatkan selama duduk di bangku SMP kelas satu. Pengalaman tersebut menjadi bekal bagi diriku untuk masa depan.
Pada kelas dua SMP aku mulai tertarik kembali untuk menjadi seorang imam. Keinginan menjadi seorang imam tumbuh lagi pada diriku. Aku pun memutusakan untuk mengikuti tes di seminari dan pada akhirnya saya diterima. Menjadi seorang imam merupakan hal yang menakutkan bagi diriku. Bagiku menjadi seorang imam merupakan panggilan yang istimewa. Awalnya aku merasa ragu karena seorang imam itu harus rajin untuk berdoa. Aku menyadari bahwa diriku bukanlah pendoa. Hidup rohaniku sangat kering. Aku berdoa ketika aku mengalami kesusahan saja. Pergi ke gereja pun hanya seminggu sekali. Akhirnya aku memberitahu kepada pastor pimpinan asrama kalau aku ingin masuk seminari. Aku merasa bahagia karena aku didukung olehnya. Meskipun aku tidak merasa yakin diterima atau tidak pada saat tes, aku mencoba untuk yakin terhadap diriku bahwa Tuhan senantiasa membukakan jalan kepadaku. Sesungguhnya aku tidak punya keinginan untuk menjadi imam ataupun menjadi bapak keluarga. Aku pun bingung mau jadi apa nantinya.. Aku berharap ketika dewasa aku bisa menolong orang yang susah dan menderita. Aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan diterima di Seminari Menengah Wacana Bhakti. Bagiku ini suatu anugerah Tuhan terhadapku karena dalam kebingungan aku diberikan kepastian akan panggilan-Nya. Aku menyadari bahwa aku dipilih dan dipanggil oleh-Nya tetapi kenapa diriku menolak untuk menerima itu semua. Meskipun keadaannya seperti itu, aku tetap bersyukur kepada-Nya bahwa Ia selalu menyertai dalam hidupku sampai saat ini.
Selama di seminari aku mengolah panggilanku, terkadang aku berpikir apakah ini jalan yang tepat bagiku?. Aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar diberikan tanda bahwa aku ini orang yang terpanggil untuk menjadi saksi kasih Allah. Pada tahun pertama motivasi menjadi seorang imam memang sangat melekat pada diriku. Aku mulai mengolah motivasiku maupun hidupku. Aku hanya berpegang bahwa aku ingin menjadi pastor OFM yaitu menjadi seorang Fransiskan. Dengan motivasi yang kumiliki tersebut aku mampu menyelesaikan program studi KPP. Tantangan selama KPP bagiku tidak terlalu berat yaitu hanya mencoba untuk tidak bergantung pada orang luar selama tiga bulan termasuk orang tua. Tantangan yang paling berat yaitu beradaptasi yaitu menyesuaikan keadaan yang ada di Seminari dan mengolah apakah aku benar-benar orang yang terpanggil atau tidak. Aku menyadari bahwa pikiranku sangat dangkal. Aku belum bisa memahami apa makna panggilan itu sendiri bagiku Aku sendiri pun belum memahami apa?, siapa itu imam?. Aku memulai pemahaman tersebut dengan membaca buku maupun bertanya dengan imam itu sendiri. Aku pun berdoa kepada Tuhan agar aku diberi keyakinan akan hal tersebut.
Beranjak naik ke kelas satu, aku memulai hidup studiku bersama teman-teman SMA Gonzaga. Aku mulai berbagi pengalaman dengan mereka. Aku merasa senang naik ke kelas satu. Di kelas satu ini aku mulai mengalami pergulatan dalam panggilan. Aku selalu berdoa kepada Tuhan agar aku dapat menghadapi pergulatan yang ada. Pergulatan yang kualami antara lain hidupku sebagai seorang seminaris. Terkadang aku iri melihat teman-temanku di luar sana. Ketika retret bulan desember 2007 aku mulai mengenal pribadiku sebagai calon imam. Aku merenungkan diriku sepanjang ret-ret itu. Hal tersebut sungguh menjadi tantangan bagi diriku. Selama proses pengolahan aku mampu mengatasi pergulatan tersebut dengan membuka diriku terhadap Tuhan maupun orang lain. Di kelas satu inilah aku mulai mengenal CICM (Conggregatio Imaculate Cordis Mariae) dari para frater yang berkunjung ke seminari ini. Aku pun mulai menetapkan hatiku pada konggregasi tersebut. Aku berharap aku bisa bahagia akan pilihanku.
Pergulatan yang kualami tidak berhenti di saat itu. Kelas dua di SMA gonzaga, dimana aku dan teman-teman memilih penjurusan. Aku kembali belajar dengan siswa-siswi Gonzaga. Dengan pertimbangan yang matang aku memilih jurusan sosial. Aku mulai belajar dengan siswi-siswi SMA Gonzaga. Aku mulai bergaul dengan mereka, aku pun berbagi pengalaman dengan mereka mengenai hidupku maupun panggilan menjadi sorang imam. Aku mulai mengolah diriku terhadap kedaan yang ada. Layaknya seorang remaja biasa, aku pun mengalami jatuh cinta atau falling in love (dalam bahasa gaulnya) dengan seorang siswi Gonzaga. Aku merasa bahagia bisa merasakan hal itu. Bisa dikatakan, aku menjadi orang yang bersemangat dalam belajar. Terkadang aku bingung kenapa bisa suka?. Aku mendalami diriku sebagaimana yang sedang kualami. Aku pun mensyukuri hal tersebut. Sesungguhnya hal itu sangat membantu diriku sebagai calon imam ketika aku menjadi seorang imam pada nantinya, dimana aku dituntut untuk menjadi gembala yang baik. Tentunya perempuan pun akan hadir sebagai umat yang harus digembalakan pada jalan yang benar Di saat retret bulan desember 2008, aku mencoba untuk membuat komitmen pada diriku. Aku pun dilatih bagaimana cara untuk memutuskan segala sesuatu. Aku dilatih berdoa ala santo Ignatius dari Loyola, dimana kita harus berdoa dahulu sebelum membuat keputusan. Di saat itulah aku mulai memutuskan pada diriku untuk melanjutkan panggilanku.
Masuk di kelas tiga, aku mencoba untuk fokus pada pilihan jalan hidupku. Aku lebih memikirkan dengan matang pilihanku ini. Aku berusaha memantapkan panggilanku untuk menjadi imam. Saat ini pun aku lebih memfokuskan diriku dalam hidup rohani. Aku terus berdoa memohon kepada Tuhan agar aku bisa rendah hati maupun bijaksana dalam menjalani panggilanku. Sesungguhnya aku akan memantapkan panggilanku di konggregasi CICM. Mengapa aku memilih CICM ?, bagiku itu sebuah pertanyaan yang mendasar. Aku memilih konggregasi tersebut karena aku mau belajar untuk hidup dalam sebuah formatio yang berbeda dari yang lain. Aku sendiri ingin seperti Yesus yang siap diutus kemana saja untuk mewartakan ajaran Allah Bapa. Aku pun ingin membuka mataku terhadap dunia di luar sana yang belum bisa ku jangkau saat ini. Oleh sebab itu aku banyak berdoa kepada-Nya agar bisa dikuatkan dalam perjalanan panggilanku ini. Aku lebih memilih hidupku untuk menjadi seorang misionaris
Hal lain yang menjadi tantanganku adalah hidup doa, memang aku bukanlah anak yang rajin berdoa. Kedekatanku dengan Tuhan hanya sebatas anak yang terus meohon dan terus memohon. Aku tidak pernah bersyukur kepadanya. Tapi sejak aku masuk seminari aku mulai meninggalkan cara hidupku yang lama dan memulai cara hidup yang baru. Dalam menjalani panggilanku ini pun aku pernah mengalami disorientasi. Ketika aku mengalami disorientasi, aku banyak menghabiskan waktuku untuk melamun ataupun berpikiran secara kosong. Untungnya aku punya teman-teman angkatan yang sungguh memperhatikan diriku. Aku sharing kepada mereka tentang apa yang sedang kualami. Mereka pun mengerti akan kesulitanku sehingga merek membantuku untuk bisa lepas atau pun menyelesaikan kesulitan yang kuhadapi. Dalam masa disorientasi itulah, hidup studiku menjadi berantakan. Tetapi ketika di seminari ini aku mengolah segala apa yang kualami. Proses pengolahan yang kulakukan membuat komitmen pada diriku. Akhirnya aku pun memutuskan untuk mengubah hidupku yang berkubang dalam kesepian tidak jelas. Aku memantapkannya dengan lebih banyak berdoa kepada Tuhan agar Ia selalu menyertai dalam perjalanan panggilanku. Meskipun aku sudah kelas tiga, aku pun memiliki rasa kekhawatiran terhadap panggilanku ini. Sesungguhnya dari pihak keluarga ibuku kurang setuju jika aku menjadi imam. Mereka berharap agar aku bisa menjadi tulang punggung keluarga. Aku pun bingung, aku mencoba meyakinkan mereka agar mau melepasku menuju jalan imamat pada nantinya. Bagiku itu bukanlah kekhawatiran yang berat bagiku. Sesungguhnya yang menjadi tantangan adalah diriku sendiri, beranikah aku setia pada komitmenku?. Aku berharap orang-orang yang mengenalku maupun tidak, dapat berdoa untukku agar aku bisa sampai imamat.
Hidup ini pun tidak hanya dipenuhi dengan tantangan tapi harus disertai dengan semangat magis dan motivasi yang kuat. Dalam menjalani panggilanku ini, aku tidak hanya memiliki motivasi dari diriku saja. Tetapi aku memerlukan motivasi dari orang lain. Bimbingan rohani merupakan hal yang sangat membantu diriku. Aku bisa berbagi pengalaman dukacita maupun sukacita kepada pembimbing rohaniku. Meskipun hal itu sudah terlaksana, ada satu hal lain yang menguatkan panggilanku yaitu refleksi. Refleksi merupakan hal yang sangat penting. Dari hal itu aku bisa belajar bagaimana menemukan Tuhan, bagaimana aku bisa peka terhadap keadaan orang lain yang sedang susah. Socrates, seorang filsuf Yunani kuno mengatakan bahwa ”hidup yang tak direfleksikan tidak pantas untuk dihidupi”. Perjalanan panggilanku juga bertolak pada ungkapannya tersebut. Semangat misioner dalam diriku pun juga yang menguatkan panggilanku sampai saat ini.
Perjalanan panggilan yang kujalani ini sunguh sangat istimewa bagiku. Kehadiran orang lain pun sangat kubutuhkan sebagai kekuatanku untuk menjalani panggilan ini. Panggilan ini merupakan hal yang unik bagi diriku. Aku yakin bahwa Tuhan senantiasa membimbing sampai pada imamat. Aku pun harus berdoa dan berusaha agar pilihan hidupku menjadi imam bisa tercapai.

“Living in a perfect harmony”

Last week, 29-30 august 2008 Gonzaga School celebrated open house with theme living in perfect harmony. Pelita Harapan of university was built since 1994. This University has three campuses. They are UPH undergraduate campus in Karawaci, UPH graduate campus in Slipi and UPH Surabaya campus. Universities Pelita Harapan is committed to the noble industry of education. This commitment is reflected in professional management, high quality faculties, curricula and facilities, as well as scholarships for outstanding students and those needing financial assistance.
During journey, the Universities Pelita Harapan vision and mission statements serve as a fundamental guide in the never-ending development of total transformational education. UPH aspires to provide excellent education through global best practices. UPH has established a strong reputation for its combination of knowledge, faith and character. Escalating student enrollment has shaped UPH into a multicultural campus, with students from more 15 diver’s nation, including Russia, china, Korea, Germany and united states. Learning supported by one of the best instructor student ratios available. UPH has many facilities like Front Office Counter, orchestra room, photography room, biology lab, medical lab, radio production lab, electrical engineering lab and the others. UPH has many sports like, swimming pool, volley ball, basket ball, billiard, foot ball and the others.
Gonzaga open house opens the stand food court, I am happy because I enjoy the food in there. I eat Bali’s food with named all about pork. This food has many kinds, I try the food. The food has kinds like chicken, rice, pork, vegetables and chili. This food is sold by Tari’s mother. She sells the food Rp 15000 I felt enough for my self and enjoy my schedule.

“DEUM PER NATURAE AMAMUS”

Merupakan pengalaman menarik ketika harus menjadi ketua panitia dalam rangka rekreasi komunitas Seminari Wacana Bhakti yaitu mendaki gunung Gede-Pangrango, Cibodas, Jawa barat. Acara yang berlangsung pada tanggal 21-23 April 2008 ini sungguh sebagai moment yang menyenangkan. Acara ini ditangani sendiri oleh anak-anak pecinta alam Seminari Wacana Bhakti yaitu AMASON. Organisasi ini mempunyai kepanjangan yaitu Amatorum Societas Naturae yang artinya kelompok pecinta alam. Organisasi ini dibentuk dalam naungan Seminari Menengah Wacana Bhakti.
Sebagai ketua acara ini, banyak persiapan yang harus saya lakukan sehingga acara tersebut dapat berjalan dengan lancar. Awal persiapan yang saya lakukan adalah menyusun proposal untuk acara ini dan mendata komunitas Seminari Wacana Bhakti yang ingin mengikuti acara rekreasi tersebut.
Saya merasa sibuk sekali akan acara tersebut. Memang bukanlah hal yang mudah untuk mengatur jalannya acara tersebut agar berjalan dengan lancar. Saya sendiri harus sibuk untuk mencari dan menyewa tronton untuk pergi ke Cibodas. Ini merupakan tanggung jawab yang besar bagi diri saya menjadi ketua panitia acara tersebut. Banyak hal yang saya alami dalam persiapan entah saya harus pergi kesana untuk registrasi dan survey tempat. Ini merupakan bagian dari tanggung jawab untuk mengurusi acara tersebut.
Akhirnya pun pada tanggal 21 April 2008 kami para seminaris dan beberapa frater pergi ke Cibodas untuk hiking bersama. Sangat menegangkan ketika harus menunggu satu orang lagi yang baru pulang dari Panti asuhan Vincentius Putera yaitu adik kelas saya ketika SMP. Kami pergi dengan menggunakan dua buah truk tronton milik Kopasus. Sebelum kami berangkat hujan pun tiba tetapi tetap saja kami semua melanjutkan perjalanan.
Selama perjalanan menuju Cibodas kami terpaksa menutup pintu bagian belakang mobil agar terhindar dari air hujan. Perjalanan pun ditempuh selama dua jam, dalam perjalanan itu kami merasa kedinginan ketika harus melewati daerah puncak. Dalam suasana yang dingin itu pun beberapa teman seminaris ada yang merokok untuk menghangatkan badan. Merokok bukan menjadi larangan ketika kami semua berada di tempat yang dingin, lagipula saya sebagai ketua acara ini sudah meminta izin kepada romo Rektor agar kami diizinkan merokok ketika sampai di Cibodas.
Hujan pun senantiasa menemani kami selama perjalanan dari Jakarta sampai cibodas. Akhirnya kami tiba disana dan ternyata hujan pun masih turun dengan deras. Pakaian kami pun basah dan kami semua berteduh di sebuah warung yang namanya “Warung Ema”. Anak-anak yang mendaki gunung biasa singgah di sana untuk makan. Makanan yang dijual disana pun relatif murah.
Kami para seminaris yang ingin mendaki gunung makan disana dan menginap semalam di warung itu. Sampai disana kami langsung makan malam sementara itu saya dan beberapa teman seminaris mendaki terlebih dahulu. Selama perjalanan menuju tempat camp yaitu Kandang Badak, saya dan beberapa teman saya merasa kedinginan tetapi rasa dingin itu bias kami hadapi selama perjalanan.
Kami menempuh perjalanan dalam keadaan gelap hanya dengan tiga buah senter yang menerangi jalan kami. Memang sangat menantang bisa mendaki malam, selain melatih mental, fisik pun akan terlatih dengan baik. Perjalanan yang kami tempuh kurang lebih enam jam. Kami berangkat dari pukul 19.00 sampai 23.30 malam. Kegelapan menyelimuti kami selama menempuh perjalanan dari bawah hingga ke atas yaitu Kandang Badak.
Sampai di sana kami langsung mendirikan tenda dan bersiap untuk istirahat. Sebelum istirahat kami makan malam dulu sehingga kami dapat tidur dengan nyaman. Dalam keadaan yang dingin tentu saja kami membutuhkan energi serta kalori yang begitu banyak. Untung saja kami bawa makanan yang manis seperti coklat dan gula merah. Udara terasa sangat dingin sekali tetapi kami menggunakan sleeping bag untuk tidur sehingga terasa hangat.
Pagi pun tiba dan saya malakukan pemanasan agar tubuh terasa hangat. Ternyata saya bangun pada pukul 10.00 pagi dan saya menanti rombongan kedua yng sedang dalam perjalanan. Saya dan teman-teman lainnya membuat sarapan agar bisa mengisi energi yang telah hilang. Khirnya pada pukul 11.00 rombongan kedua dari seminari datang, mereka sungguh kelelahan dan kehausan. Mereka datang dan sampailah di Kandang Badak. Mereka langsungmendirikan tenda dan setelah itu kami semua langsung melanjutkan pendakian ke gunung Pangrango. Perjalanan ditempuh kurang lebih selama 2 jam. Medan yang dilewati pun cukup menantang dan menyulitkan. Setelah mendaki gunung pangrango kami kembali ke tempat camp ketika sore menjelang malam. Akhirnya kami makan malam dan kami mebuat kopi agar bisa mengahngatkan tubuh kami.
Ternyata pada hari itu saya berulang tahun yang ke 17 yaitu pada tanggal 22 April. Saya merasa bahagia sekali bisa merayakan ulang tahun saya di gunung. Pada keesokan harinya kami mulai packing barang-barang dan harus turun lagi. Tetapi pada pagi hari kami mencoba melihat sunrise dari puncak gunung Gede tetapi terhalang oleh kabut sehingga kita tidak dapat menikmati sunrise. Akhirnya kami turun pada siang hari, kami mengangkut sampah yang ada di jalan. Sampai di bawah kami makan malam dan kami kami kembali ke seminari lagi. Kami sangat lelah dan letih.
Dari acara ini kita bisa belajar untuk mencintai Tuhan lewat alam seperti semboyan AMASON yaitu “Deum Per Naturae Amamus”.

A Drunk at The Bullfight

Abstract:
Have you ever to be a drunkard? Have you ever drunk the alcoholism? What do you do if you are at bullfight? Run or just stay in the middle of bullfight. If you just stay in the middle of bullfight, maybe you can be attacked by bull. If you run you can safe from bullfight. Isn’t like that?

Coda:
We must be careful if we encounter of the danger. We must know what we do. We must think before we make decision to do. If we want to keep our health we may not drink alcoholism because it is not well for our body. We must be always keep from alcoholism. We don’t ever to be drunkard.

Peculiare Dei Dominum

BAB 1
IMAM

A. Pengertian
Imam adalah seorang yang memiliki kewibawaan, dan hendaklah ia berani untuk menjalankannya. Kewibawaan imamat tidak memerintah dan mengurus melainkan adalah rendah hati. Karya imam berpangkal dan berakhir pada keyakinan iman akan Allah, dan imam hanya dapat memberikan kesaksian mengenai Kristus yang telah menjadi pusat hidup umat-Nya. Banyak imam hidup dan berkarya karena sadar akan panggilan, yang pernah mereka terima, yang mewarnai seluruh hidup mereka sampai kini dan yang kini mendorong mereka untuk tetap setia dalam tugas.

B. Imam Sebagai Saksi Gereja
Sebagai saksi iman Gereja, imam dapat menjalankan tugasnya hanya dalam kesatuan dengan gereja. Kesatuan itu ialah kesatuan dengan Uskup dalam presbyterium yang satu. Imam diutus untuk mengabdikan diri kepada kepentingan seluruh gereja dalam rangka hidup dan karya gereja local. Sebenarnya tak mungkin menjadi mam tanpa ikatan dan kerjasama dengan seluruh presbyterium. Menerima tugas imamat dalam iman dan menjalankan dalam pengabdian Kristus dalam Gereja berarti pula hidup dala kesatuan serta ingin mewujudlkan persaudaraan.
Seorang imam menjadi suci bukan doa menurut aturan melainkan dengan doa penyerahan pada Allah serta dalam pengalaman Allah yang maha agung.Seorang imam menjadi suci bukan dengan pandalaman sabda Allah sehingga ia semakin ahli dalam mengerti, menerangkan dan mamakai kitab suci melainkan jika ia membiarkan diri disapa secara pribadi dan manusiawi dalam Yesus Putera Allah. Seorang imam menjadi suci bukan dengan pengakuan dosa teratur melainkan dengan menerima dan mensyukuri kesetiaan Allah yang mengikuti hidup kita yang berliku-liku dalam dosa sekalipun.
Seorang imam menjadi suci bukan karena upacara kurban misa yag dilakukan setiap hari melainkan mengenangkan penuh syukur pada setiap tempat karya besar Allah dalam Kristus dan dengan merayakan kehadiran Allah pada setiap saat, dalam perayaan ekaristi. Seorang imam menjadi suci bukan karena kepribadiannya yang dewasa melainkan karena segala keutamaan dan kelemahan manusia.

C. Rahmat Imamat
Semua persoalan dalam hidup rohani seorang imam selalu akan sampai pada hal yang sama, yaitu keserasian ataupun ketegangan antara jabatan imamat dan kesucian pribadi. Seharusnya imam tidak melarikan diri dalam pelbagai kesibukan sambilan, seperti usaha-usaha sosial, aktivitas politik, counseling dan seterusnya. Tugas imam ialah kesakian iman dan jabatan ini tidak selalu dirasakan sebagai kuk yang enak atau beban yang ringan, melainkan terkadang pula sebagai pikulan yang berat.
Kerelaan menjadi imam dan saksi iman Gereja bersumber pada keyakinan iman, bahwa Allah merangkum hidup manusia dengan cinta penebusan-Nya serta mendampingi semua orang dengan kesetian-Nya. Kesaksian para imam ingin selalu mengungkapkan lagi kepercayaan mereka yang pribadi, bahwa Allah tidak hanya berdiri pada permulaan hidup dan memanggil manusia, melainkan Allah yang sama sudah selalu berdiri pula pada akhir setiap hidup dan pada akhir dari segala zaman.

D. Peranan Yang Aktif
Adapun dasar bagi imam, baik untuk dirinya sendiri maupun di mata oran lain, mau memainkan peranan sebagai saksi iman Gereja. Imam berperanan hanyalah sejauh peranan itu dimainkannya secara aktif. Peranan imam akan hilang kalau ia menunggu saja sampai ia diminta. Imam akan kehilangan dampaknya dalam gereja apabila ia tidak mengisi peranannya yang penuh inisiatif dan fantasi.
Tugas pelayanan imam tidak boleh dibatasi pada pelaksanan formal dari kuasa tahbisan, umpamanya dengan mengucapkan kata-kata institusi dlam perayaan ekaristi atau rumus absolusi dalam sakrmaen tobat. Dalam hidup dan pelayanan mereka, para imam berhadapan dengan beraneka ragam bentuk Gereja dan dengan berbagai kebutuhan jemaat. Seorang imam diminta untuk mengabdikan imannya yang paling pribadi kepada kepentingan umum seluruh Gereja. Seluruh karya imam untuk melancarkan komunikasi iman dalam gereja, mengalir dari hidup iman ataupn dari spiritualitas imam itu sendiri.

E. Menjadi Imam Menetapkan Tujuan
Pilihan hidup sebagai seorang imam adalah pilihan mulia. Pilihan yang mengandung konsekuensi yang tidak ringan karena ada pengorbanan di sana. Pernyataan ini hendaknya tidak dihadapkan dengan pertanyaan apakah pilihan lain tidak mulia?. Tentu saja pilihan apapun adalah mulia bila dikaitkan dengan kesadaran untuk tujuan apa pilihan itu dibuat. Pernyataan diatas ingin menegaskan bahwa pilihan hidup menjadi imam lebih sulit dijalani dan dihayati bila tetap ingin berpegang pada tujuan saat pilihan itu dibuat. Memuliakan jiwa untuk bersatu dengan Bapa melalui jalan terjal, menghayati ketiga nasihat injil.
Dalam dunia manajemen, menetapkan tujuan menjadi mutlak perlu ada dan harus dirumuskan secara jelas. Dari sana sasaran antara dan strategi pelaksanaan disusun dan dieksekusi tahap demi tahap sesuai urutan waktunya. Sebuah peta perjalanan ditetapkan agar menjadi panduan. Keberhasilannya dievaluasi dari waktu ke waktu sesuai tolak ukur yang ditetapkan.
Menjadi seorang imam tujuannya jelas. Dia tidak hidup terutama bagi dirinya sendiri tetapi hidup untuk melayani umat. Usaha untuk mencapai sasaran dengan melaksanakan strategi yang dibuat membutuhkan kepemimpinan diri sendiri yang kuat dan berdisiplin. Kepemimpinan itu didasarkan bukan hanya pada logika dan intelektualitas tetapi juga pada hati (emosi). Menjalani kehidupan sesuai janji imamat dibutuhkan bukan hanya perjuangan tetapi juga kiat-kiat untuk tetap teguh. Ukuran pertama keberhasilan seorang imam adalah kesetiaannya pada imamatnya. Ukuran selanjutnya adalah sosok pribadi dan karyanya. Supaya imam tampil sebagai sosok yang dicintai umat perlu memimpin dirinya sendiri untuk mengembangkan keterampilan personalnya.
Mengembangkann keterampilan personal pada dasarnya adalah mengembangkan kemampuan untuk mengelola diri sendiri. Sasarannya, imam sebagai manusia diharapkan mampu tampil sebagai sosok pribadi yang memiliki integritas, kematangan emosional dan kepekanan social. Keterampilan personal itu akan bisa didapat kalau kita juga terampil mengelola kesadaran diri.

BAB 2
HIDUP SELIBAT

A. Sejarah dan Spiritualitas Selibat
Tuhan kita menawarkan selibat sebagai cara hidup yang sah, bukan hanya dengan cara hidup-Nya Sendiri, sebab Ia tidak pernah menikah, melainkan juga dalam ajaran-Nya. Ketika Tuhan kita menekankan bahwa perkawinan merupakan suatu ikatan perjanjian antara suami dan isteri, dan karenanya tidak diperbolehkan untuk bercerai dan menikah lagi (bdk Mt 19:3-12), Ia mengakhirinya dengan, “Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga.” Tradisi Gereja - seperti dinyatakan dalam Katekismus Gereja Katolik No. 1579 - menunjuk “demi Kerajaan Sorga” ini sebagai dasar selibat.
Namun demikian, di masa Gereja perdana, hidup selibat bagi para klerus tidaklah dimandatkan. St Paulus dalam surat pertamanya kepada St Timotius menulis, “Penilik jemaat [Uskup] haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan” (3:2) dan “Diaken haruslah suami dari satu isteri dan mengurus anak-anaknya dan keluarganya dengan baik” (3:12). Meski begitu, orang hendaknya tidak secara salah menafsirkan ajaran ini dengan mengartikan bahwa seorang uskup, imam atau diakon haruslah menikah; St Paulus mengakui bahwa ia sendiri tidak menikah (1 Kor 7:7).
Namun demikian, gerakan ke arah selibat para klerus mulai berkembang di lingkungan Gereja. St Epiphanius dari Salamis (wafat thn 403) mengatakan, “Gereja yang Kudus menghormati martabat imamat hingga ke tahap Gereja tidak menerimakan diakonat, presbiterat ataupun episkopat, bahkan subdiakonat, kepada siapapun yang masih hidup dalam ikatan perkawinan dan memperanakkan keturunan. Gereja hanya menerima dia, yang jika telah menikah meninggalkan isterinya atau telah kehilangan isterinya karena meninggal dunia, teristimewa di tempat-tempat di mana kanon gerejani diterapkan secara ketat.” Konsili Elvira (306), yaitu konsili lokal Spanyol, menerapkan selibat pada para uskup, para imam dan para diakon, “Kami mendekritkan bahwa segenap uskup, imam, diakon dan semua klerus yang terlibat dalam pelayanan sama sekali dilarang hidup bersama isteri mereka dan memperanakkan keturunan: siapapun yang melanggar akan dikeluarkan dari martabat klerus.” Di kemudian hari, Konsili Karthago memperluas prasyarat selibat hingga ke tingkat subdiakonat.
Setelah disahkannya kekristenan pada tahun 313, berkembanglah pembahasan yang lebih mendalam mengenai selibat para klerus. Dalam Konsili ekumenis Nicea I (325), Uskup Hosius dari Cordova mengusulkan suatu dekrit yang memandatkan selibat para klerus, termasuk para klerus yang telah menikah. Uskup Mesir Paphnutius, ia sendiri tidak menikah, mengajukan protes, menegaskan bahwa prasyarat yang demikian akan terlalu keras dan tidak bijaksana. Sebaiknya, para klerus yang telah menikah hendaknya terus setia kepada isteri mereka, sementara yang belum menikah hendaknya memutuskan secara pribadi apakah ia hendak hidup selibat atau tidak. Jadi, tidak ada prasyarat yang dimandatkan Gereja bagi para imam untuk selibat.
Namun demikian, pada waktu itu, muncul semangat spiritual baru “kemartiran putih”. Semasa penganiayaan, banyak yang menderita “kemartiran merah,” mencurahkan darah demi iman. Dengan kemartiran putih, para laki-laki dan perempuan memilih untuk dengan sukarela mengingkari hal-hal dari dunia ini dan mati bagi diri mereka yang lama, agar dapat bangkit kembali untuk hidup dalam suatu kehidupan yang sepenuhnya dibaktikan kepada Kristus. Gagasan kemartiran putih ini mendorong lahirnya monastisisme dan kaul-kaul kemiskinan, kemurnian (termasuk selibat), dan ketaatan.
Dalam Gereja Timur, terdapat perbedaan antara uskup dan para klerus lainnya mengenai apakah mereka harus selibat. Kitab Hukum Sipil Kaisar Justinian melarang siapapun yang mempunyai anak atau bahkan keponakan untuk ditahbiskan sebagai seorang uskup. Konsili Trullo (692) memandatkan bahwa seorang uskup harus selibat, dan jika ia telah menikah, ia harus berpisah dari isterinya sebelum ditahbiskan sebagai uskup. Para imam, diakon dan subdiakon dilarang menikah setelah pentahbisan, meski mereka hendaknya terus memenuhi janji perkawinan mereka andai telah menikah sebelum pentahbisan. Ketentuan-ketentuan ini hingga kini masih berlaku bagi sebagian besar Gereja-gereja Timur.

Yang menyedihkan, pada Abad Pertengahan, muncul kasus-kasus penyelewengan dalam selibat para klerus, yang menimbulkan reaksi keras dari Gereja. Sinode Augsburg (952), dan konsili-konsili lokal: Anse (994) dan Poitiers (1000) semuanya mengukuhkan peraturan selibat. Paus Gregorius VII pada tahun 1975 melarang para imam yang menikah atau yang memiliki selir mempersembahkan Misa atau melakukan pelayanan-pelayanan gerejani lainnya, dan melarang kaum awam ikut ambil bagian Misa atau dalam pelayanan-pelayanan liturgis lainnya yang dilayani oleh para imam yang demikian. Akhirnya, Konsili Lateran Pertama (1123), suatu konsili Gereja yang ekumenis, memandatkan selibat bagi para klerus Barat.
Konsili Lateran Kedua (1139) kemudian mendekritkan Tahbisan Suci sebagai halangan dari suatu perkawinan, dengan demikian menjadikan segala usaha perkawinan oleh seorang klerus tertahbis menjadi tidak sah. Dan pada akhirnya, peraturan-peraturan mengenai selibat tampaknya menjadi jelas dan konsisten di segenap penjuru Gereja Katolik. Gereja Katolik terus-menerus meneguhkan disiplin selibat para klerus, yang paling akhir adalah dalam dekrit Konsili Vatikan Kedua “Presbyterorum ordinis” (1965), ensiklik Paus Paulus VI “Sacerdotalis Caelibatus” (1967), dan dalam Kitab Hukum Kanonik (1983).
Setelah menelusuri perkembangan historis mengenai bagaimana selibat ditetapkan bagi para klerus dalam Gereja Katolik Roma (terkecuali di beberapa Gereja-gereja Ritus Timur), sekarang kita akan membahas spiritualitas yang mendasari peraturan ini.
Konsili Vatikan Dua dalam Dekrit mengenai Pelayanan dan Kehidupan Para Imam (Presbyterorum ordinis) (1965) menegaskan, “Pantang sempurna dan seumur hidup demi Kerajaan Sorga telah dianjurkan oleh Kristus Tuhan, dan di sepanjang masa, juga zaman sekarang ini, oleh banyak orang Kristen telah diterimakan dengan sukarela dan dihayati secara terpuji. Pantang itu oleh Gereja selalu sangat dijunjung tinggi bagi kehidupan imam. Sebab merupakan lambang dan sekaligus dorongan cinta kasih kegembalaan, serta sumber istimewa kesuburan rohani di dunia” (No. 16). Sembari mengakui bahwa selibat tidak dituntut oleh imamat berdasarkan hakekatnya, Konsili menegaskan bahwa selibat mempunyai kesesuaian dengan imamat: “Dengan menghayati keperawanan atau selibat demi Kerajaan Sorga, para imam secara baru dan luhur dikuduskan bagi Kristus.

B. Tahapan Dalam Kehidupan Selibat
Dalam tulisannya Bernard R. Bornot membagi tahapan hidup selibat dalam 4 tahap berdasarkan pemikiran Erik Erikson. Erik Erikson membedakan tahapan hidup dalam suatu dilemma khusus untuk diatasi dan ditata. Setiap penanganan memiliki hasil yang berbeda, bisa positif atau negative. Pendekatan Erikson menampilkan bahwa tiap tahap hidup selibat diasosiasikan dengan sebuah dilemma yang khas dan menuntut kekuatan khusus untuk mengatasinya serta menumbuhkan keutamaan khusus pula.
Dalam masa remaja, isu utama adalah bagaimana seseorang menangani dorongan fisik, kerinduan emosional, fantasi imajinatif dan hasrat psikologis yang terdalam. Kita berada dalam dunia yang menawarkan sex bebas tetapi sekaligus dunia dimana sex perlu dikontrol. Tahap pertama dari kehidupan selibat menuntut penanganan dilema seksualitas dengan tidak mengikuti dorongan seksual apapun. Orang yang tidak bernegosiasi dengan tantangan keremajaan ini harus akan bernegosiasi ulang seluruh perspektif dikemudian hari, seperti Agustinus, jika mereka mau menerima kemungkinan hidup selibat dan memutuskan untuk hidup di dalamnya.
Kekuatan yang dihasilkan dari penanganan yang sukses adalah hidup selibat dalam arti fisik. Keberhasilannya adalah sebuah kemampuan untuk menjadi sungguh manusia tanpa mesti aktif secara seksual dan tanpa merasa terganggu dan frustrasi.
Tantangan utamanya adalah kebutuhan akan pasangan dan anak (banyak orang mendefinisikan hidup mereka dalam arti ini). Tahap ini beda dengan tahap kehidupan psikososial dari Erikson. Erikson mengusulkan intimasi sebagai tantangan setelah identitas. Tapi dalam hidup selibat lebih menyangkut keturunan (generativity). Tahun-tahun dalam hidup selibat saat ini lebih berhubungan dengan kebutuhan akan keturunan (generativity).
Tahap kedua dalam hidup selibat menyangkut kebutuhan akan munculnya kerinduan untuk menjadi Bapa atau Ibu. Penanganan yang berhasil dari tahap pertama memampukan orang untuk komitment pada hidup selibat dengan hidup tanpa aktif seksual dalam arti fisik. Orang yang memutuskan untuk secara seksual aktif mencari patner lebih bersifat fisik daripada psikologi dari pasangannya. Ini bisa akan membawa perpisahan atau perceraian di kemudian hari.
Imam muda atau religius dalam pelayanannya di paroki atau bidang lain berhadapan dengan keluarga-keluarga muda dengan anak. Pada saat ini semakin disadari konsekwensi dari pilihan untuk tidak memiliki pasangan hidup dan anak (keturunan). Yang utama disini bukan soal fisik dan psikologi tetapi perbadingan dan kesadaran akan kematian generasinya.
Penanganan terhadap tahap ini menuntut kaum selibat akan keradikalan dan kematian pribadi dari eksistensinya. Seorang selibat harus sadar bahwa pilihan untuk hidup selibat menyangkut bukan hanya ketidakaktifan seksual tetapi juga ketiadaan keturunan. Mungkin pernah dipikirkan sebelumnya tetapi sekarang sungguh menjadi suatu penderitaan yang luar biasa. Karena begitu menyakitkan pribadi harus meninjau kembali komitmen, berpikir ulang bahwa mungkin ia tidak pernah menyadarinya apa artinya tidak memiliki anak atau keturunan. Penanganan terhadap krisis ini memaksa kaum selibat terhadap makna yang lebih penuh dari ide generavitas bukan hanya soal tanggungjawab terhadap keturunan dan pemeliharaan dari anak sendiri tetapi juga bagi komunitas sebagai keseluruhan, untuk kehidupan dan pendidikan dan kebaikan generasi kemudian dan masa depan semua generasi, untuk kebudayaan, untuk iman-harap dan kasih di bumi ini, untuk gereja, untuk kerajaan Allah. Pada tahap ini, kaum selibat harus menerima kenyataan bahwa selibat bukan hanya ketidakaktifan seksual tetapi juga ketidak aktifan peran Bapa dan ibu. Keberhasilan pada tahap ini adalah kemampuan untuk menjadi produktive dan bertanggungjawab tanpa menjadi orang tua dan/atau merasa tercabut dan tidak sempurna.
Tantangan di sini adalah keinginan, hasrat, kebutuhan dari kaum selibat untuk persahabatan, orang-orang yang kepadanya mereka membagi hidup keseharian. Isu pokoknya bukan sex, bukan anak dan keluarga tetapi Keintiman (bagaimana saya berhubungan dengan orang lain). Dalam tahapan ini, kaum selibat tiba pada pengalaman kesendirian, keheningan dan mungkin keterasingan karena dirinya dan hidupnya tidak disharingkan secara intim dengan orang lain. Orang berhasrat untuk membagi kepribadiannya, dalam kepenuhan dan kedalamannya dengan yang lain dan ingin orang lain melakukan yang sama. Intimasi menyangkut relasi antar pribadi, atau satu dengan beberapa seperti dalam sebuah keluarga, komunitas persaudaraan, sebagaimana juga dalam Trinitas. Kaum selibat sering menghadapi kenyataan bahwa dia tidak hidup dalam keintiman yang demikian. Keberhasilan pada tahap tiga ini adalah keintiman relasi: sebuah kemampuan untuk menjadi teman sharing dalam hidup bagi yang lain tanpa menikah dan tanpa merusak pemberian dirinya kepada Allah baik secara fisik atau psikologi.
Yang menjadi perhatian mereka bukan pada pertanyaan yang tidak ada gunanya tetapi yang memiliki kegunaan bagi keseluruhan untuk menemukan alasan untuk menguatkan teman-teman dan kelompok pensiun atau yang mendekati kematian. Dan untuk merasa secara pribadi bernilai dan penting ketika tidak seorangpun secara intim hadir bersamanya yang dengannya ia telah membagi semuanya
Tetapi kaum selibat mesti antisipasi beberapa krisis baru pada tahap ini, sekalipun ia telah berhasil bernegosisi pada tahap-tahap sebelumnya. Orang yang tidak mampu bernegosiasi dengan kenyataan ini akan merasa terpisah, lelah atau kecewa. Sementara yang berhasil akan memahami makna yang mendalam dan kelayakan hidup mereka dan akan dengan positif menghadapi pengalaman baru mereka termasuk kesempatan baru untuk membagi kebijaksanaan. Peribadi yang demikian akan tetap hadir kepada komunitas. Mereka akan tetap terlibat secara fisik, generatif, intim dengan potensi yang kreatif yang akan memahkotai hidup mereka dan membawa berkat yang besar kepada orang (saudara) yang dengannya mereka sharing.

C. Usaha Tanpa Akhir
Hidup selibat bukanlah putusan yang satu kali dibuat. Kedewasaan dalam hidup selibat adalah hal pencapaian keutamaan dari setiap tahap dan semua tahap. Kehidupan selibat memiliki kelebihan, bukan hanya sekedar soal ketidakaktifan seksual, tidak menikah, gersang, hidup sendiri. Tiap tahap menuntut kekhususan motivasinya sendiri dan memiliki rationalitasnya sendiri. Hidup kita harus masuk akal bagi kita sendiri jika kita mau orang lain memahaminya dan bertahan terhadap tantangan dalam persiarahan hidup yang kita pilih sendiri. Tantangan selalu berbeda seturut perjalanan umur dan juga rasionalitasnnya berbeda pula. Untuk hidup selibat dengan baik hanya dengan cara menjalani pertobatan yang terus menerus melewati tahap-tahap kehidupan dan tantangannya. Inilah makna panggilan kita sebagai religius Fransiskan untuk senantiasa selalu dalam proses pertobatan. Maka panggilan kita menjadi Fransiskan selalu dalam proses pertobatan yang tanpa akhir sampai kematian menjeput kita. Dengan melihat tahap hidup religius kita bisa saling mengerti dan saling menguatkan dalam perziarahan panggilan kita.

D. Dinamik Seksual dalam Pelayanan
Semua kita memiliki reaksi seksual. Dalam survey lebih dari 500 psikoterapis, 87 persen (95 persen laki-laki dan 76 persen perempuan) melaporkan bahwa mereka tertarik secara seksual terhadap klien mereka dan banyak (63 persen) merasa bersalah, cemas atau bingung tentang daya tarik ini. Kita, sebagai religius yang terlibat dalam berbagai pelayan, mungkin memiliki reaksi yang sama terhadap orang yang kita layani secara dekat. Hal ini cukup menantang ketika kita membantu orang dalam kesulitan mereka terutama kaum perempuan yaitu bahaya transferensi dan countertransferensi. Mereka menemukan dalam diri kita sesuatu yang hilang dalam hidup seperti: perhatian, cinta, figur orang tertentu ynag menjadi harapan mereka, dll dan kita bisa mengalami hal yang sama, menemukan pada orang yang kita bantu: figur ibu atau figur anak, atau figur orang yang pernah kita jatuh cintah kini datang kembali dalam diri orang lain. Bila tidak disadari, tidak direfleksi, semua hal ini akan secara pelan-pelan menumbuhkan perasaan cinta yang tidak sehat. Maka amat perlu untuk merefleksikan hidup seksualitas kita sendiri: kelemahannya dan kekuatannya. Tetapi juga sebenarnya perlu orang lain sebagai “pembimbing rohani” untuk membagi pergumulan hidup. Saya baru menyadari pentingnya hal ini dalam kehidupan kita sebagai religius terutama sebagai sahabat untuk bersama-sama membedakan roh yang baik dan jahat. Tetapi soalnya kita tidak terbiasa untuk membicarakan kehidupan seksual kita, entah karena faktor budaya, agama, teologi, dan sebagainya sehingga kita amat malu ketika orang tahu apa yang sedang terjadi dalam diri kita. Ketika orang lain “jatuh cintah” kita lebih berpikir: “ada sesuatu yang tidak beres” dan pikiran yang sama kita proyeksikan kepada orang lain ketika kita mengalami hal yang sama sehingga kita tidak berani untuk mensharingkannya kepada orang lain yang memiliki kemampuan untuk membantu kita menghadapi tantangan hidup karena kita takut dihakimi dan dipersalahkan. Kita berpikir bahwa orang lain sama seperti cara kita berpikir yang sempit dan terbatas tetapi ada saudara lain yang memiliki kebijaksanaan.

E. Selibat Menuntut Duka
Diakui bahwa penanganan yang sehat dari kehilangan akan kemungkinan untuk menikah, keintiman seksual, anak, atau hidup berkeluarga menuntut kaum selibat untuk berduka dan meratap. Ada beberapa proses yang penting.

a. Pengakuan akan realitas dari kehilangan
Seorang selibat tidak dapat mulai dengan proses kedukaan sampai dia menerima kebenaran dari kehilangan itu: Saya tidak akan pernah menjadi seorang suami, saya tidak akan pernah berhubungan seksual dengan seorang yang saya cinta, saya tidak akan pernah memiliki anak sendiri, saya tidak akan pernah menjadi seorang kakek. Bagaimana kita merasakan semua kehilangan ini? Kita perlu membayangkan kemungkinan pasangan atau anak kita. Kita harus melihat mereka, bicara dengan mereka, mengatakan kepada mereka mengapa mereka tidak bisa ada dan katakan selamat tinggal untuk mereka.

b. Indentifikasi dan ekspresikan perasaan duka itu
Seorang selibat harus mengekspresikan dalam kata, perasaan ketegangan bahwa rekan perjalanan hilang daripadanya. Proses penyembuhan sangat banyak dibantu ketika perasaan ini dibagikan dengan orang yang dipercaya. Dengan mensharingkan pengalaman ini, emosi yang “sakit” kepada orang lain, seorang membuat sebuah pernyataan yang aktif akan kepercayaan kepada orang lain. Kepercayaan ini memindahkan batas keisolasian, sinisme dan ketidakpercayaan yang begitu muda timbul kembali setelah sebuah rasa kehilangan mempertinggi rasa mudah terluka. Adalah penting untuk diingat bahwa banyak religius dituduh melakukan pelecehan seksual adalah orang yang merasa terasing dan tidak percaya pada orang lain.

c. Memperingati Kehilangan

Semua kebudayaan memiliki ritual dan kebiasaan untuk berduka untuk membantu proses kedukaan. Ritual perlu dikembangkan untuk kaum selibat supaya pantas berduka apa yang dia tinggalkan – mungkin sebagai bagian dari postulat, kaul pertama, atau kaul kekal.

d. Mengakui Keambivalensian
Langkah ini adalah tantangan yang paling besar dalam proses kedukaan: untuk mengakui konflik perasaan. Kehilangan jarang meninggalkan sebuah luka yang bersih, tetap ada bekas. Menerima selibat adalah pengakuan kebaikan dari seksualitas manusia dan pernikahan. Selibat bukanlah pilihan sebuah yang baik di atas sebuah yang buruk. Konflik perasaan sungguh hadir.

e. Penanganan Keambivalensian
Orang yang berduka harus mencapai sebuah keseimbangan antara konflik perasaan sehingga perasaan positif dan negatif sungguh diakui dan ditempatkan dalam perspektif. Kaum selibat harus menjadi sungguh sukacita dan penuh damai dalam penerimaan akan hidup selibatnya sebagai jalan hidup untuk mencapai level dari penanganan ini. Ini hanya terjadi atas pemurnian motivasinya untuk masuk dalam panggilan hidup selibat (saya masuk seminari bukan untuk menyenangkan orang tua). Seorang harus bebas dalam panggilannya ketika ia sungguh memiliki panggilan itu. Kepemilikan ini datang hanya setelah konfrontasi yang jujur dengan motivasi sejati darinya untuk mengejar panggilan yang demikian.

f. Rela melepaskan
Hal penting di sini adalah kesediaan untuk mengatakan selamat tinggal pada tingkat perasaan daripada intelektual. Ini hanya terjadi setelah semua langkah sebelumnya dilewati.

g. Bergerak maju

Tugas ini menuntut perubahan orientasi sekarang dan masa depan. Harapan, mimpi, rencanam dan aspirasi harus ditata dan dibentuk lagi dalam pemahaman terhadap realitas yang baru. Tahap ini, tergantung pada tahap yang lain, melibatkan pelepasan harapan, mimpi, rencana dan aspirasi yang mengelilngi pilihan yang bukan dipilih. Selibat harus bebas dan penuh sukacita untuk memilih langkah ini – sebuah tugas yang sungguh merupakan sebuah proses hidup yang panjang.

F. Sebuah Psikologi Kehampaan
Nilai yang paling penting dari nothingness adalah bahwa ia membawa sebuah perjuangan penuh derita demi makna yang penting dan tetap. Nothingness adalah perlu sebagai awal yang mengantar kepada kebaikan dan kegembiraan hidup sejauh orang mengolahnya. Kesepian eksistensial mengantar kepada cinta yang otentik. Kesendirian eksistensial mengantar kepada penyerahan yang bermakna. Depresi esksitensial mengantar kepada kemudahan hidup. Kecemasan eksistensial mengantar kepada kedamaian jiwa. Rasa salah eksistensial mengantar kepada proses menjadi yang kreatif. Frustrasi yang eksistensial mengantar kepada kepenuhan yang kekal. Kemarahan eksistensial mengantar kepada pandangan yang bijaksana. Kebosanan eksistensial mengantar kepada keterlibatan yang menyenangkan. Apatis eksistensial mengantar kepada kepedulian yang penuh kasih. Dan penderitaan eksistensial mengantar kepada pembebasan yang damai.
Tetapi bagaimana kita mensintesiskan ide psikologi modern tentang aktualisasi diri, perealisasian diri, jadilah dirimu sendiri dengan paham kekristenan akan penyangkalan diri dan penyerahan total? Walter E. Com dalam buku The Desireng Self: Rooting Pastoral Counseling and Spiritual Direction in Self-Transendence mengatakan bahwa jika perealisasian diri berarti pemenuhan diri dalam pengertian narsistik dari pemuasan setiap keinginan, maka harus ditolak bukan karena anti nilai kekristenan tetapi anti kemanusiaan. Pemenuhan yang demikian adalah sebuah ilusi yang mustahil. Jika penyangkalan diri berarti menyangkal atau mengorbankan diri yang sejati dan radikal, maka harus ditolak bukan hanya karena anti kemanusiaan tetapi anti nilai kekristenan. Penyangkalan yang demikian akan mengorbankan kemungkinan dari cinta. Tetapi kita mesti menegaskan bahwa perealisasian diri sebagai pemenuhan dari kemutlakan diri yang sejati, demikian pula bahwa penyangkalan diri sebagai penolakan segala kepentingan, hasrat, keinginan diri yang mengganggu perealisasian diri yang sejati.
Maka transendensi diri merupakan penyatuan yang otentik antara perealisasian diri dan penyangkalan diri yang sejati demi pengembangan kemanusian dan spiritualitas kekristenan. Perealisasian dan penyangkalan diri didorong oleh makna, kebenaran, nilai dan cinta untuk menolok segala bentuk cinta diri yang mengejar kebahagiaan yang hampa. Transendensi diri terjadi dalam tanggapan yang efektif terhadap hasrat yang radikal dari roh manusia pada makna, kebenaran, nilai dan cinta.


G. Penutup
Pilihan selalu memiliki konsekwensi. Konsekwensi-konsekwensi atas pilihan itu akan selalu hadir setiap saat kehidupan kita sebagai religius yang menantang kita untuk berpikir ulang dan membaharui komitmen kita. Panggilan hidup selibat tidak akan mudah dipahami tanpa mencari jawabannya dalam Allah. Karena itu doa menjadi amat penting sebagai sumber dan dasar kekuatan kita dalam menjalani panggilan hidup ini. John Chapman menulis dalam Spiritual Letters, “Semakin engkau kurang berdoa maka semakin buruk yang terjadi”.
Tetapi soalnya bagaimana kita berdoa. Kita biasa berdoa brevir, ekaristi dan kalau ada yang bertahan untuk meditasi sebelum atau sesudah ibadat bersama. Apakah itu cukup? Apa masih ada waktu untuk doa pribadi? Doa memang menghabiskan waktu (apalagi saat-saat ujian dengan banyak tugas) tetapi justru disitulah sumber kekuatan kita. Doa bersama memang penting tetapi menyediakan waktu untuk sendiri tidak kalah pentingnya karena justru pada saat itulah kita bertemu secara pribadi dengan Allah. Sebab tanpa suatu relasi yang kuat dengan Dasar panggilan kita, kita akan mudah kehabisan tenaga dan kita hangus menjadi abu (burnout). Maka dalam relasi pribadi dengan Tuhan dituntut suatu kejujuran dari kita untuk menjadikan seluruh pergumulan, pergolakan perasaan menjadi sumber doa kita. Dalam kitab Mazmur ada begitu banyak contoh doa yang mengungkapkan situasi nyata pergumulan pemazmur dalam relasinya dengan Tuhan termasuk kemarahannya akan situasi yang sedang ia hadapi “Mengapa semua ini terjadi padaku?” tetapi dibalik kemarahan itu terlintas iman dan harapan akan Belaskasih Allah dan keselamatan.
Kita mungkin diajar untuk menjauhkan diri dari segala gangguan dalam berdoa, misalnya tiba-tiba kita ingat seorang cewek yang dekat dengan kita atau keluarga dan kita harus “menyangkal” semua ini supaya relasi kita dengan Tuhan bisa berjalan baik. Sebagai latihan untuk kedisiplinan itu baik tetapi justru hal-hal inilah yang menjadi sumber doa kita yang amat pribadi kepada Allah dan untuk dibicarakan kepadaNya. Ann & Barry Ulanov dalam Primary Speech A Psychology of Prayer membahas panjang lebar tentang doa dalam hubungan dengan hasrat, proyeksi, fantasi, ketakutan, aggresi, seksualitas. Semua hal ini akan menjadi sumber doa untuk direfleksikan bersama Tuhan dan sekaligus memohon kekuatan dan penyembuhan dari Tuhan dalam kesulitan dan tantangan hidup kita sehingga kita menemukan diri yang sejati dihadapan Allah. Dalam Doa kita akan menemukan kesejatian diri kita dihadapan Allah yang menerima kita sebagaimana kita ada dan sekaligus membiarkan diri untuk dibawa kemana pun Ia mau. Maka tepatlah orang mengatakan bahwa semakin kita mengenal Allah kita semakin memiliki harga diri yang sehat. Karena hanya orang yang memiliki harga diri yang sehat bisa mengembangkan cinta yang sejati pula.
Tetapi sering kita mengalami kegersangan dalam doa. Doa menjadi sulit atau mungkin hampir mustahil. Allah nampaknya jauh dan tidak bisa dimengerti. Nampak tak ada makna dalam segala sesuatu, ketika motivasi secara total lemah dan hancur berantakan. Kita berada dalam darkness (kegelapan) menurut istilah John dari Salib. Kegelapan itu merupakan bagian dalam proses pengenalan akan Allah yang lebih mendalam.
Untuk mengenal Allah kita sering memberi nama secara posotif dan terkadang hal ini membawa konsekwensi Allah yang kita pahami begitu kecil sehingga kita tidak bisa mengerti apa yang sedang terjadi dalam hidup kita. Akibatnya kita putus asa dan lari dari padaNya. Dalam doa sering kita “berkata” kepada Allah “Terjadilah kehendaku seperti apa yang kukatakan!” Padahal Allah memiliki rencananya sendiri atas hidup kita tetapi kita tidak mau dengar karena dipengaruhi oleh banyak hal, terutama titik-titik kepekaan yang mudah terluka dalam diri kita masing-masing yang mempengaruhi proses membuat keputusan atau pilihan dalam hidup keseharian.

Dari pada memaksa Allah maka kita perlu rendah hati (hambah yang merendah) di hadapan Tuhan untuk memohon terang RohNya sehingga kita tahu apa kehendakNya atas diri kita (tetapi dalam keputusan tertentu kita butuh orang lain dalam proses pembedaan roh /discerment sebab kita sering sulit mengambil jarak dalam hal yang mau kita putuskan). Maka Maria, Yesus dan Fransiskus menjadi teladan bagi kita dalam mencari kehendak Allah dalam kerendahan hati mereka dihadapan Allah. ”Terjadilah padaku menurut perkataanmu” (Maria), “Ya Bapaku, jikalau Engkau mau, ambilah cawan ini daripadaKu, tetapi bukanlah kehendaKu, melaikan kehendakMulah yang terjadi” (Yesus) dan Doa di depan Salib merupakan suatu pergumulan Fransiskus dalam pencarian kehendak Allah tapi seluruh kepribadiannya menyatakan perendahan diri yang total dihadapan Allah.
Di sisi lain kita menyadari bahwa Allah itu mistery dan tak pernah digapai seluruhnya oleh daya tangkap manusia maka doa contemplasi memungkinkan kita suatu cakrawala yang luas untuk memahami Allah dari hanya sekedar memasukkan Allah dalam kotak kecil pemahaman kita. Doa kontemplasi lebih diartikan “menanti” Allah meraja dalam hidup kita. Dalam contemplasi kadang terjadi suatu pengalaman “tiba-tiba” ada sesuatu yang berubah dalam hidup kita, cara kita memahami kenyataan, meskipun kita tidak mengerti seluruhnya dan tidak mampu menjelaskannya dalam kata-kata. Maka pengalaman manusia akan Allah sangat ditentukan oleh relasi pribadi dengan Allah. Kita mengenal Allah secara pribadi justru dalam pengalaman seperti ini. Pengalaman ‘tersentuh’ inilah yang mengantar orang kepada pertobatan. Maka tepatlah apa yang diperjuangkan oleh Bonaventura untuk menjadikan teologi sebagai bagian yang tidak terpisah dari spiritualitas. Teologi yang hanya menekankan segi intelektual hanya menghasilkan orang yang tahu bicara tentang Allah tetapi tidak pernah berbicara dengan Allah.







BAB 3
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dengan mengikuti suatu tradisi lama, dari mereka dituntut cara hidup yang tidak kawin. “Para klerikus terikat kewajiban untuk memelihara tarak sempurna dan karena itu terikat selibat” (KHK kan. 277*1). Selibat bukan kewajiban dalam rangka jabatan imamat. Selibat tidak terutama berarti “bertarak” dan “berkorban”, melainkan rasa kagum dan percaya akan kasih allah yang tak terduga. Usaha yang seperti ini serta terbatas memberi kesaksian mengenai cinta kasih Allah bagi semua usaha kita. Maka selibat dipandang sebagai “peculiare dei dominum” (anugrah istimewa allah-KHK kan.277*1) untuk semakin bersatu dengan Kristus. Orang memilih cara hidup tidak kawin, karena digerakkan oleh kerajaan Allah yang telah mendekat.
Maka penghayatan selibat yang sejati mencerminkan dan meneruskan suasana aman. Imam-imam membina hidup selibater tidak dengan menentukan dan menepati batas-batas pergaulan. Tingkah laku selibater menunjukkan cinta kasih yang universal. Selibat mengungkapkan jawaban dari seseorang yang ditangkap. Dan hanya orang yang cukup peka dan halus, sebenarnya dapat dikena dihati dan dapat memeberikan jawaban dari hati ke hati. Orang yang kering dan dalam hidup selibat telah memedamkan eros, mudah menjadi kaku, keras, egois. Maka hidup selibat tidak mengingkari melainkan membina eros, agar dapat menjalankan hidup imamat penuh dedikasi. Dalam hidup selibat ada hidup kawin, sebagai bayangan, yaitu kemungkinan yang tidak ditempuh. Agar imam dapat “melekat pada kristus dengan hati yang tidak terbagi”, bagian-bagian hidup yang tidak dipilihnya serta segala dorongan dan aspirasi-aspirasi, kerinduan dan kenikmatan yang di dalam bayangan itu tidak boleh didiamkan dengan peraturan hidup yang ketat dan disiplin yang keras. Pengabdian para imam yang paling luhur pun sedalam-sedalamnya diwarnai oleh sifat kepriaan.
Hidup selibat adalah “tanda dan dorongan untuk cinta kegembalaan”(PO no.16). Melalui selibat, imam seharusnya menjadi bebas untuk pelayanan agar “dengan hati yang tak terbagi mereka dapat membaktikan diri kepada tugas pelayanan mereka yang dipercayakan kepada mereka”. Hidup tidak menikah merupakan pengabdian kepada gereja. Karena imam tidak menikah, imam mungkin meragakan bahwa cinta kasihnya masih mudan dan hatinya masih bebas. Imam selalu masih dapat memberikan seluruh cintanya kepada setiap orang yang mendatanginya. Pada pelbagai saat hidup dan tahap perkembangan kepribadian dan dalam wujud yang berubah, hidup selibat menuntut dari imam untuk membina seksualitas dengan wajar yaitu tidak mengingkari seksualitas dan mengakui dorongan-dorongan yang berubah dan berkembang sebagai pemuda, dalam umur dewasa sebagai ayah, dalam hari tua, menjadi rela dan kuat dalam memikul tanggung jawab diri sendiri dan orang lain
Baik hidup berkeluarga maupun hidup selibat menuntut kemampuan untuk partnership yang tulus. Secara khusus, cinta selibater ditujukan kepada mereka yang tidak mampu memberi balasan, demi Allah yang lebih mencintai mereka. Agar hidup selibater menjadi mungkin, perlu diindahkan pelbagai kondisi manusiawi, seperti perumahan dan hygiene, kesibukan, dan waktu terluang, persahabtan dan interse yang dapat memberi isi kepada orang hidup selibater.
Demikianlah dengan para klerus. Menjadi seorang imam berarti mempersembahkan diri sebagai kurban bagi Kristus demi kebaikan Gereja-Nya. Imam berkurban dari menikah dengan seorang perempuan dan memiliki keluarganya sendiri sebaliknya ia memberikan diri untuk “dikawinkan” dengan Kristus dan Gereja-Nya serta melayani segala kebutuhan mereka sebagai seorang “bapa”.
Yang terakhir, dalam hidup selibat sungguh dibutuhkan rahmat Tuhan. Berulangkali, selibat dipandang sebagai anugerah Roh Kudus. Namun demikian, anugerah ini tidak hanya memampukan orang untuk mengendalikan hasrat jasmaninya atau hidup sebagai seorang jejaka melainkan anugerah ini juga memampukan orang untuk dapat menjawab “ya” kepada Tuhan setiap hari dan mengamalkan hidup-Nya. Jadi seorang imam masih relevan untuk hidup selibat.

Betlehem Van Java

. Mengenal Romo Van Lith
Romo Van Lith SJ merupakan imam asal belanda yang melaksanakannya misinya di tanah jawa Indonesia. Ia lahir pada tanggal 17 Mei 1863 di Oirschot, Belanda. Ia anak seorang juru sita pegadaian.Van Lith tiba untuk pertama kalinya di Semarang tahun 1896 kemudian belajar budaya dan adat Jawa. Selesai pembekalan, ia ditempatkan di Muntilan sejak 1897. Romo Van Lith SJ ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 8 September 1896, kemudian atasannya langsung menugaskan dirinya menjadi misionaris di tanah Jawa. Sesungguhnya ini di luar dugaan dirinya tetapi dengan ketaatannya kepada serikat dan Tuhan akhirnya ia melaksanakan misinya di tanah Jawa. Ia mengawali karya misioner di wilayah yang sama sekali belum ia kenal.
. Dengan taat ia melaksanakan tugasnya, ia tiba di Semarang tahun 1896. Akhirnya ia berusaha untuk beradaptasi dengan keadaan masyarakat jawa. Ia mulai mempelajari bahasa setempat dan memahami budaya-budaya yang ada.
. Misi di Tanah Jawa
Sampai di Semarang, romo Van Lith menghabiskan beberapa bulan untuk belajar bahasa Jawa dari pagi hingga makan malam. Ia ingin menghadikan karya kristus kepada masyarakat Jawa. Suatu saat ia melihat bahwa ada kesalahan yang dilakukan oleh para katekis. Ia mencoba meyelidiki dan akhirnya terungkap bahwa terjadi korupsi di kalangan para katekis. Ia sungguh amat kecewa terhadap para katekis, ia pun melaporkan kejadian ini ke Vikariat Batavia. Sempat pembicaraanya tidak didengarkan akhirnya ia mencoba untuk membuktikan sendiri. Lama kelamaan kasus itu terungkap ketika pengakuan dosa, rakyat hanya berkata Pater Noster. Ia sunguh amat sedih, akhirnya dengan tekadnya dia mau berjuang untuk menjadikan rakyat Jawa untuk dibaptis. Ia mulai dengan pendekatan rakyat Jawa yaitu dengan kumpul bareng bersama.
Romo Van Lith berbeda dengan kawannya Romo Hoevenaars, SJ. Ia menterjemakan doa Bapa Kami dengan citarasa Jawa, daripada persis dalam Kitab Suci. Konflik mereka, tertulis dalam sebuah buku yang merupakan perdebatan visi masing-masing. Romo van Lith yang idealisme misinya bukan sekedar menambah jumlah baptisan, sebagaimana dilakukan kawannya di Mendut, justru dianggap gagal. Misi di Muntilan bahkan akan ditutup. Sendang Sono merupakan tempat awal misi bagi romo Van lith.. Misi Muntilan tidak berakhir. Justru van Lith kian bersemangat melayani orang Jawa. Ia mendidik, menemani, menyelami, memahami, memberi dan menerima dengan belajar, bermain dan hadir bersama orang Jawa. Kedekatan Romo van Lith membuatnya dianggap bapak bagi mereka. Kedekatan itu pula yang membawanya pada posisi membela orang pribumi.
Masa akhir di Dunia
Setelah sempat menjalani perawatan di negeri Belanda, Van Lith yang lahir di Oirshot Provinsi Brabant, Negeri Belanda. Van Lith meninggal dunia pada tanggal 17 Mei 1926 di Semarang dan dikebumikan di pemakaman Yesuit di Muntilan.

Gereja dan Sampah

. Pandangan Gereja dan Manusia

Gereja sebagai tanda kehadiran Allah yang berziarah dalam sejarah manusia hadir dan bergumul dalam persoalan-persoalan kemanusiaan di tengah dunia. Keprihatinan dan kepedulian Gereja kian hari kian mendobrak kedalaman nurani dan budi. Melalui ajaran sosialnya, Gereja Katolik ingin mengajak seluruh umat beriman untuk selalu peka dan peduli pada nasib sesama, terutama mereka yang miskin, menderita, terasing dan menjadi korban ketidakadilan. Dengan peduli kepada mereka yang terpinggirkan dari kehidupan modern saat ini, Gereja mengundang seluruh umat beriman untuk mengambil bagian dalam upaya mengangkat martabat manusia sebagai ciptaan Allah yang sempurna, yakni manusia sebagai citra Allah, gambar dan wajah Allah yang penuh dengan kemuliaan di dunia ini.
Keprihatinan ini menjadi sangat kontekstual justru ketika kehidupan di dunia modern saat ini banyak sekali menunjukkan tanda-tanda rusaknya wajah Allah, yaitu ketidakadilan, kekerasan dan penindasan. Proses globaliasi yang kini sedang melanda dunia secara luas membawa satu tuntutan mobilitas, yang banyak sekali mendorong manusia untuk mencari kehidupan yang lebih baik, jauh dari keluarga dan negara asal mereka. Mereka inilah kaum migran dan perantau yang bersama dengan ribuan umat Allah lainnya berziarah menemukan makna kehidupan di tengah situasi dunia yang terus berubah. Mereka pulalah yang dalam hari-hari terakhir ini banyak menjadi korban ketidakadilan, terpinggirkan dan tidak terpenuhi hak-hak hidupnya.
Bercermin dari keprihatinan di atas, maka harapan untuk membangun kehidupan yang lebih baik bagi para migran dan perantau menjadi tugas semua pihak di negeri ini. Gereja mendukung setiap kehendak baik dari semua pihak yang berkomitmen terhadap nasib para migran dan perantau, baik itu negara sebagai badan publik, kelompok pengusaha, maupun masyarakat umum. Negara sebagai badan publik harus menjamin kehidupan warga negaranya, termasuk mereka yang mencari penghidupan di negara lain, yaitu para pekerja migran dan perantau. Perlindungan terhadap setiap warga negara yang harus diemban oleh pemerintah, adalah perlindungan terhadap kemanusiaan dan kehidupan itu sendiri. Oleh karenanya Gereja mendorong pemerintah untuk melihat masalah ini dalam cara pandang kemanusiaan, bukan semata-mata kebijakan politik negara yang melihat para pekerja migran sekedar sebagai komoditas negara. Dengan cara pandang ini pula, Gereja mengajak negara mengangkat martabat manusia Indonesia pada nilai yang semestinya sebagai citra Allah, bukan sebagai sampah, yang dibuang dan bahkan dijual sebagai barang dagangan yang menguntungkan negara.
Pada kesempatan ini pula, Gereja mengajak masyarakat Indonesia untuk memperhatikan dan memperjuangkan kehidupan para kaum migran dan perantau. Gereja mendorong partisipasi masyarakat untuk sadar dan peduli dengan situasi serta nasib para pekerja migran Indonesia serta bersama-sama mengawasi jalannya kebijakan perlindungan terhadap pekerja migran. Harapan akan kehidupan yang lebih baik bagi para pekerja migran dan para perantau adalah tanggung jawab kita bersama. Memperhatikan dan memperjuangkan kaum migran dan perantau adalah bagian dari perjuangan menegakkan nilai-nilai kemanusiaan dan penghargaan akan nilai kehidupan manusia. Lebih dari itu, memperhatikan dan memperjuangkan nasib kaum migran dan perantau adalah upaya nyata mengembalikan manusia pada nilai yang semestinya sebagai citra Allah.

• Seputar permasalahan sampah
Volume sampah di Jakarta cenderung meningkat. Peningkatan itu berkaitan dengan mentalitas belanja masyarakat. Masyarakat yang bertambah banyak serta diikuti kebutuhan yang banyak pula membuat suatu perubahan terhadap keadaan di bumi. Suatu perubahan itu dikarenakan sampah yang telah menumpuk tanpa pengolahan.
Faktor-faktor yang menjadi penghambat adalah sebagai berikut, hambatan paling pertama adalah sifat manusia itu sendiri. Setiap individu manusia mempunyai sifat malas, egois dan tidak mau repot. Hambatan kedua adalah struktur karena gerakan selalu bergantung pada struktur. Suatu gerakan terjadi karena tiga hal : struktur, focus yang jelas, dan pemimpin.
Gerakan katolik mempunyai struktur yang sangat bagus, tapi sering terbentur masalah siapa yang menjadi pemimpin. Kalau di paroki–paroki tidak ada yang menggerakkan, gerakan ini tidak bisa maksimal. Jadi, ujung tombaknya adalah peran paroki dan lingkungan.
Kebutuhan yang paling mendesak dalam menangani permasalahan sampah adalah sebagai berikut pertama, sarana sosialisasi. Kedua, kemauan atau inisiatif dari paroki-paroki sendiri.Gereja tidak mempunyai wewenang dalam tempat pengolahan sampah. Tempat pengolahan sampah itu wewenang pemerintah. Yang bisa dilakukan gereja adalah mendorong uma melakukan prinsip reduce, reuse, recycle, dan tambahan replant. Replant adalah penghijauan. Misalnya mendirikan umat mendiriakn pabrik pupuk, tapi lepas dari struktur gereja.
Sampah merupakan berkah ekonomi.Sampah yang diolah bisa menghasilkan uang. Sampah tidak saja menjadi sumber ekonomi bagi pemulung tapi bisa juga menjadi sumber ekonomi bagis siapa saja yang mengelola sampah.
• Tanggapan
Pada artikel yang telah saya baca dan analisis, pada akhirnya timbul keprihatinan dalam diri saya mengenai sampah yang ada di bumi khususnya di Keuskupan Agung Jakarta. Banyak sampah yang dihasilkan oleh masyarakat kita tetapi apakah kita hanya berdiam saja melihat keadaan yang akan berakibat buruk dan menggangu kenyamanan hidup kita?. Pertanyaan seperti yang dapat menjadi bahan refleksi kita bersama sebagai umat Katholik serta umat lainnya . Saya sendiri menyadari akan keadaan seperti itu, tapi apa yang bisa kita perbuat ?. Saya sendiri akan mencoba untuk bisa ikut aktif dalam kegiatan kebersihan yang diselenggarakan. Gereja sebagai persekutuan umat Allah harus bisa memberikan pelayanan untuk menanggulangi sampah. Sesungguhnya sampah itu banyak dimanfaatkan jika kita kreatif dan mampu mengolahnya. Sekarang gereja sudah memanfaatkan sampah untuk kehidupan antara lain sebagai pupuk. Awalnya, sebagai umat katholik seharusnya kita mampu membedakan mana sampah organik dan non organik. Dengan kemampuan membedakan seperti itu sangat membantu untuk mengolah sampah. Dari keadaan seperti itu saya sebagai umat katolik belajar untuk lebih peka terhadap barang–barang yang bisa menimbulkan sampah. Saya juga belajar untuk mengolah sampah tersebut menjadi suatu berkah terhadap kehidupan kita bersama.