Minggu, 10 Januari 2010

Gereja dan Sampah

. Pandangan Gereja dan Manusia

Gereja sebagai tanda kehadiran Allah yang berziarah dalam sejarah manusia hadir dan bergumul dalam persoalan-persoalan kemanusiaan di tengah dunia. Keprihatinan dan kepedulian Gereja kian hari kian mendobrak kedalaman nurani dan budi. Melalui ajaran sosialnya, Gereja Katolik ingin mengajak seluruh umat beriman untuk selalu peka dan peduli pada nasib sesama, terutama mereka yang miskin, menderita, terasing dan menjadi korban ketidakadilan. Dengan peduli kepada mereka yang terpinggirkan dari kehidupan modern saat ini, Gereja mengundang seluruh umat beriman untuk mengambil bagian dalam upaya mengangkat martabat manusia sebagai ciptaan Allah yang sempurna, yakni manusia sebagai citra Allah, gambar dan wajah Allah yang penuh dengan kemuliaan di dunia ini.
Keprihatinan ini menjadi sangat kontekstual justru ketika kehidupan di dunia modern saat ini banyak sekali menunjukkan tanda-tanda rusaknya wajah Allah, yaitu ketidakadilan, kekerasan dan penindasan. Proses globaliasi yang kini sedang melanda dunia secara luas membawa satu tuntutan mobilitas, yang banyak sekali mendorong manusia untuk mencari kehidupan yang lebih baik, jauh dari keluarga dan negara asal mereka. Mereka inilah kaum migran dan perantau yang bersama dengan ribuan umat Allah lainnya berziarah menemukan makna kehidupan di tengah situasi dunia yang terus berubah. Mereka pulalah yang dalam hari-hari terakhir ini banyak menjadi korban ketidakadilan, terpinggirkan dan tidak terpenuhi hak-hak hidupnya.
Bercermin dari keprihatinan di atas, maka harapan untuk membangun kehidupan yang lebih baik bagi para migran dan perantau menjadi tugas semua pihak di negeri ini. Gereja mendukung setiap kehendak baik dari semua pihak yang berkomitmen terhadap nasib para migran dan perantau, baik itu negara sebagai badan publik, kelompok pengusaha, maupun masyarakat umum. Negara sebagai badan publik harus menjamin kehidupan warga negaranya, termasuk mereka yang mencari penghidupan di negara lain, yaitu para pekerja migran dan perantau. Perlindungan terhadap setiap warga negara yang harus diemban oleh pemerintah, adalah perlindungan terhadap kemanusiaan dan kehidupan itu sendiri. Oleh karenanya Gereja mendorong pemerintah untuk melihat masalah ini dalam cara pandang kemanusiaan, bukan semata-mata kebijakan politik negara yang melihat para pekerja migran sekedar sebagai komoditas negara. Dengan cara pandang ini pula, Gereja mengajak negara mengangkat martabat manusia Indonesia pada nilai yang semestinya sebagai citra Allah, bukan sebagai sampah, yang dibuang dan bahkan dijual sebagai barang dagangan yang menguntungkan negara.
Pada kesempatan ini pula, Gereja mengajak masyarakat Indonesia untuk memperhatikan dan memperjuangkan kehidupan para kaum migran dan perantau. Gereja mendorong partisipasi masyarakat untuk sadar dan peduli dengan situasi serta nasib para pekerja migran Indonesia serta bersama-sama mengawasi jalannya kebijakan perlindungan terhadap pekerja migran. Harapan akan kehidupan yang lebih baik bagi para pekerja migran dan para perantau adalah tanggung jawab kita bersama. Memperhatikan dan memperjuangkan kaum migran dan perantau adalah bagian dari perjuangan menegakkan nilai-nilai kemanusiaan dan penghargaan akan nilai kehidupan manusia. Lebih dari itu, memperhatikan dan memperjuangkan nasib kaum migran dan perantau adalah upaya nyata mengembalikan manusia pada nilai yang semestinya sebagai citra Allah.

• Seputar permasalahan sampah
Volume sampah di Jakarta cenderung meningkat. Peningkatan itu berkaitan dengan mentalitas belanja masyarakat. Masyarakat yang bertambah banyak serta diikuti kebutuhan yang banyak pula membuat suatu perubahan terhadap keadaan di bumi. Suatu perubahan itu dikarenakan sampah yang telah menumpuk tanpa pengolahan.
Faktor-faktor yang menjadi penghambat adalah sebagai berikut, hambatan paling pertama adalah sifat manusia itu sendiri. Setiap individu manusia mempunyai sifat malas, egois dan tidak mau repot. Hambatan kedua adalah struktur karena gerakan selalu bergantung pada struktur. Suatu gerakan terjadi karena tiga hal : struktur, focus yang jelas, dan pemimpin.
Gerakan katolik mempunyai struktur yang sangat bagus, tapi sering terbentur masalah siapa yang menjadi pemimpin. Kalau di paroki–paroki tidak ada yang menggerakkan, gerakan ini tidak bisa maksimal. Jadi, ujung tombaknya adalah peran paroki dan lingkungan.
Kebutuhan yang paling mendesak dalam menangani permasalahan sampah adalah sebagai berikut pertama, sarana sosialisasi. Kedua, kemauan atau inisiatif dari paroki-paroki sendiri.Gereja tidak mempunyai wewenang dalam tempat pengolahan sampah. Tempat pengolahan sampah itu wewenang pemerintah. Yang bisa dilakukan gereja adalah mendorong uma melakukan prinsip reduce, reuse, recycle, dan tambahan replant. Replant adalah penghijauan. Misalnya mendirikan umat mendiriakn pabrik pupuk, tapi lepas dari struktur gereja.
Sampah merupakan berkah ekonomi.Sampah yang diolah bisa menghasilkan uang. Sampah tidak saja menjadi sumber ekonomi bagi pemulung tapi bisa juga menjadi sumber ekonomi bagis siapa saja yang mengelola sampah.
• Tanggapan
Pada artikel yang telah saya baca dan analisis, pada akhirnya timbul keprihatinan dalam diri saya mengenai sampah yang ada di bumi khususnya di Keuskupan Agung Jakarta. Banyak sampah yang dihasilkan oleh masyarakat kita tetapi apakah kita hanya berdiam saja melihat keadaan yang akan berakibat buruk dan menggangu kenyamanan hidup kita?. Pertanyaan seperti yang dapat menjadi bahan refleksi kita bersama sebagai umat Katholik serta umat lainnya . Saya sendiri menyadari akan keadaan seperti itu, tapi apa yang bisa kita perbuat ?. Saya sendiri akan mencoba untuk bisa ikut aktif dalam kegiatan kebersihan yang diselenggarakan. Gereja sebagai persekutuan umat Allah harus bisa memberikan pelayanan untuk menanggulangi sampah. Sesungguhnya sampah itu banyak dimanfaatkan jika kita kreatif dan mampu mengolahnya. Sekarang gereja sudah memanfaatkan sampah untuk kehidupan antara lain sebagai pupuk. Awalnya, sebagai umat katholik seharusnya kita mampu membedakan mana sampah organik dan non organik. Dengan kemampuan membedakan seperti itu sangat membantu untuk mengolah sampah. Dari keadaan seperti itu saya sebagai umat katolik belajar untuk lebih peka terhadap barang–barang yang bisa menimbulkan sampah. Saya juga belajar untuk mengolah sampah tersebut menjadi suatu berkah terhadap kehidupan kita bersama.

Tidak ada komentar: