Minggu, 10 Januari 2010

Orang yang terpanggil menjadi Saksi Allah...


SEJARAH PANGGILAN


Panggilan merupakan sebuah misteri yang tidak diketahui oleh manusia, apalagi panggilan sebagai calon imam. Menjadi seorang imam merupakan suatu anugerah yang diberikan Tuhan kepada manusia yang telah dipilih oleh Tuhan sendiri. Setiap orang mempunyai panggilan yang berbeda-beda, sehingga disebut dengan Personal Vocation.
Ketertarikanku menjadi imam melekat pada diriku sejak aku duduk di bangku SD kelas empat. Keinginan menjadi seorang imam termotivasi dengan sosok imam yang bertugas di parokiku. Ketika kelas enam SD panggilan menjadi seorang imam pun sudah tidak terlalu lekat pada diriku lagi, meskipun teman-teman di SD mendukungku untuk menjadi seorang imam.
Aku melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Aku memasuki hidup yang berbeda yaitu di asrama yaitu Panti Asuhan Vincentius Putera. Di asrama aku memulai hidup mandiri. Awalnya aku merasa berat dan bosan untuk menjalani segala kegiatan yang ada. Dukungan teman-teman senantiasa menguatkan diriku untuk tetap bertahan dan krasan. Bagiku ini tidaklah mudah untuk menjalani kehidupan di asrama yang isinya anak laki-laki dengan berbagai macam latar belakang keluarga yang berbeda.
Kelas satu SMP aku sudah tidak memikirkan lagi panggilan menjadi seorang imam. Aku hanya menjalani kehidupan sebagai remaja pada umumnya. Aku sungguh menikmati masa remaja di sekolah. Banyak pengalaman yang kudapatkan selama duduk di bangku SMP kelas satu. Pengalaman tersebut menjadi bekal bagi diriku untuk masa depan.
Pada kelas dua SMP aku mulai tertarik kembali untuk menjadi seorang imam. Keinginan menjadi seorang imam tumbuh lagi pada diriku. Aku pun memutusakan untuk mengikuti tes di seminari dan pada akhirnya saya diterima. Menjadi seorang imam merupakan hal yang menakutkan bagi diriku. Bagiku menjadi seorang imam merupakan panggilan yang istimewa. Awalnya aku merasa ragu karena seorang imam itu harus rajin untuk berdoa. Aku menyadari bahwa diriku bukanlah pendoa. Hidup rohaniku sangat kering. Aku berdoa ketika aku mengalami kesusahan saja. Pergi ke gereja pun hanya seminggu sekali. Akhirnya aku memberitahu kepada pastor pimpinan asrama kalau aku ingin masuk seminari. Aku merasa bahagia karena aku didukung olehnya. Meskipun aku tidak merasa yakin diterima atau tidak pada saat tes, aku mencoba untuk yakin terhadap diriku bahwa Tuhan senantiasa membukakan jalan kepadaku. Sesungguhnya aku tidak punya keinginan untuk menjadi imam ataupun menjadi bapak keluarga. Aku pun bingung mau jadi apa nantinya.. Aku berharap ketika dewasa aku bisa menolong orang yang susah dan menderita. Aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan diterima di Seminari Menengah Wacana Bhakti. Bagiku ini suatu anugerah Tuhan terhadapku karena dalam kebingungan aku diberikan kepastian akan panggilan-Nya. Aku menyadari bahwa aku dipilih dan dipanggil oleh-Nya tetapi kenapa diriku menolak untuk menerima itu semua. Meskipun keadaannya seperti itu, aku tetap bersyukur kepada-Nya bahwa Ia selalu menyertai dalam hidupku sampai saat ini.
Selama di seminari aku mengolah panggilanku, terkadang aku berpikir apakah ini jalan yang tepat bagiku?. Aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar diberikan tanda bahwa aku ini orang yang terpanggil untuk menjadi saksi kasih Allah. Pada tahun pertama motivasi menjadi seorang imam memang sangat melekat pada diriku. Aku mulai mengolah motivasiku maupun hidupku. Aku hanya berpegang bahwa aku ingin menjadi pastor OFM yaitu menjadi seorang Fransiskan. Dengan motivasi yang kumiliki tersebut aku mampu menyelesaikan program studi KPP. Tantangan selama KPP bagiku tidak terlalu berat yaitu hanya mencoba untuk tidak bergantung pada orang luar selama tiga bulan termasuk orang tua. Tantangan yang paling berat yaitu beradaptasi yaitu menyesuaikan keadaan yang ada di Seminari dan mengolah apakah aku benar-benar orang yang terpanggil atau tidak. Aku menyadari bahwa pikiranku sangat dangkal. Aku belum bisa memahami apa makna panggilan itu sendiri bagiku Aku sendiri pun belum memahami apa?, siapa itu imam?. Aku memulai pemahaman tersebut dengan membaca buku maupun bertanya dengan imam itu sendiri. Aku pun berdoa kepada Tuhan agar aku diberi keyakinan akan hal tersebut.
Beranjak naik ke kelas satu, aku memulai hidup studiku bersama teman-teman SMA Gonzaga. Aku mulai berbagi pengalaman dengan mereka. Aku merasa senang naik ke kelas satu. Di kelas satu ini aku mulai mengalami pergulatan dalam panggilan. Aku selalu berdoa kepada Tuhan agar aku dapat menghadapi pergulatan yang ada. Pergulatan yang kualami antara lain hidupku sebagai seorang seminaris. Terkadang aku iri melihat teman-temanku di luar sana. Ketika retret bulan desember 2007 aku mulai mengenal pribadiku sebagai calon imam. Aku merenungkan diriku sepanjang ret-ret itu. Hal tersebut sungguh menjadi tantangan bagi diriku. Selama proses pengolahan aku mampu mengatasi pergulatan tersebut dengan membuka diriku terhadap Tuhan maupun orang lain. Di kelas satu inilah aku mulai mengenal CICM (Conggregatio Imaculate Cordis Mariae) dari para frater yang berkunjung ke seminari ini. Aku pun mulai menetapkan hatiku pada konggregasi tersebut. Aku berharap aku bisa bahagia akan pilihanku.
Pergulatan yang kualami tidak berhenti di saat itu. Kelas dua di SMA gonzaga, dimana aku dan teman-teman memilih penjurusan. Aku kembali belajar dengan siswa-siswi Gonzaga. Dengan pertimbangan yang matang aku memilih jurusan sosial. Aku mulai belajar dengan siswi-siswi SMA Gonzaga. Aku mulai bergaul dengan mereka, aku pun berbagi pengalaman dengan mereka mengenai hidupku maupun panggilan menjadi sorang imam. Aku mulai mengolah diriku terhadap kedaan yang ada. Layaknya seorang remaja biasa, aku pun mengalami jatuh cinta atau falling in love (dalam bahasa gaulnya) dengan seorang siswi Gonzaga. Aku merasa bahagia bisa merasakan hal itu. Bisa dikatakan, aku menjadi orang yang bersemangat dalam belajar. Terkadang aku bingung kenapa bisa suka?. Aku mendalami diriku sebagaimana yang sedang kualami. Aku pun mensyukuri hal tersebut. Sesungguhnya hal itu sangat membantu diriku sebagai calon imam ketika aku menjadi seorang imam pada nantinya, dimana aku dituntut untuk menjadi gembala yang baik. Tentunya perempuan pun akan hadir sebagai umat yang harus digembalakan pada jalan yang benar Di saat retret bulan desember 2008, aku mencoba untuk membuat komitmen pada diriku. Aku pun dilatih bagaimana cara untuk memutuskan segala sesuatu. Aku dilatih berdoa ala santo Ignatius dari Loyola, dimana kita harus berdoa dahulu sebelum membuat keputusan. Di saat itulah aku mulai memutuskan pada diriku untuk melanjutkan panggilanku.
Masuk di kelas tiga, aku mencoba untuk fokus pada pilihan jalan hidupku. Aku lebih memikirkan dengan matang pilihanku ini. Aku berusaha memantapkan panggilanku untuk menjadi imam. Saat ini pun aku lebih memfokuskan diriku dalam hidup rohani. Aku terus berdoa memohon kepada Tuhan agar aku bisa rendah hati maupun bijaksana dalam menjalani panggilanku. Sesungguhnya aku akan memantapkan panggilanku di konggregasi CICM. Mengapa aku memilih CICM ?, bagiku itu sebuah pertanyaan yang mendasar. Aku memilih konggregasi tersebut karena aku mau belajar untuk hidup dalam sebuah formatio yang berbeda dari yang lain. Aku sendiri ingin seperti Yesus yang siap diutus kemana saja untuk mewartakan ajaran Allah Bapa. Aku pun ingin membuka mataku terhadap dunia di luar sana yang belum bisa ku jangkau saat ini. Oleh sebab itu aku banyak berdoa kepada-Nya agar bisa dikuatkan dalam perjalanan panggilanku ini. Aku lebih memilih hidupku untuk menjadi seorang misionaris
Hal lain yang menjadi tantanganku adalah hidup doa, memang aku bukanlah anak yang rajin berdoa. Kedekatanku dengan Tuhan hanya sebatas anak yang terus meohon dan terus memohon. Aku tidak pernah bersyukur kepadanya. Tapi sejak aku masuk seminari aku mulai meninggalkan cara hidupku yang lama dan memulai cara hidup yang baru. Dalam menjalani panggilanku ini pun aku pernah mengalami disorientasi. Ketika aku mengalami disorientasi, aku banyak menghabiskan waktuku untuk melamun ataupun berpikiran secara kosong. Untungnya aku punya teman-teman angkatan yang sungguh memperhatikan diriku. Aku sharing kepada mereka tentang apa yang sedang kualami. Mereka pun mengerti akan kesulitanku sehingga merek membantuku untuk bisa lepas atau pun menyelesaikan kesulitan yang kuhadapi. Dalam masa disorientasi itulah, hidup studiku menjadi berantakan. Tetapi ketika di seminari ini aku mengolah segala apa yang kualami. Proses pengolahan yang kulakukan membuat komitmen pada diriku. Akhirnya aku pun memutuskan untuk mengubah hidupku yang berkubang dalam kesepian tidak jelas. Aku memantapkannya dengan lebih banyak berdoa kepada Tuhan agar Ia selalu menyertai dalam perjalanan panggilanku. Meskipun aku sudah kelas tiga, aku pun memiliki rasa kekhawatiran terhadap panggilanku ini. Sesungguhnya dari pihak keluarga ibuku kurang setuju jika aku menjadi imam. Mereka berharap agar aku bisa menjadi tulang punggung keluarga. Aku pun bingung, aku mencoba meyakinkan mereka agar mau melepasku menuju jalan imamat pada nantinya. Bagiku itu bukanlah kekhawatiran yang berat bagiku. Sesungguhnya yang menjadi tantangan adalah diriku sendiri, beranikah aku setia pada komitmenku?. Aku berharap orang-orang yang mengenalku maupun tidak, dapat berdoa untukku agar aku bisa sampai imamat.
Hidup ini pun tidak hanya dipenuhi dengan tantangan tapi harus disertai dengan semangat magis dan motivasi yang kuat. Dalam menjalani panggilanku ini, aku tidak hanya memiliki motivasi dari diriku saja. Tetapi aku memerlukan motivasi dari orang lain. Bimbingan rohani merupakan hal yang sangat membantu diriku. Aku bisa berbagi pengalaman dukacita maupun sukacita kepada pembimbing rohaniku. Meskipun hal itu sudah terlaksana, ada satu hal lain yang menguatkan panggilanku yaitu refleksi. Refleksi merupakan hal yang sangat penting. Dari hal itu aku bisa belajar bagaimana menemukan Tuhan, bagaimana aku bisa peka terhadap keadaan orang lain yang sedang susah. Socrates, seorang filsuf Yunani kuno mengatakan bahwa ”hidup yang tak direfleksikan tidak pantas untuk dihidupi”. Perjalanan panggilanku juga bertolak pada ungkapannya tersebut. Semangat misioner dalam diriku pun juga yang menguatkan panggilanku sampai saat ini.
Perjalanan panggilan yang kujalani ini sunguh sangat istimewa bagiku. Kehadiran orang lain pun sangat kubutuhkan sebagai kekuatanku untuk menjalani panggilan ini. Panggilan ini merupakan hal yang unik bagi diriku. Aku yakin bahwa Tuhan senantiasa membimbing sampai pada imamat. Aku pun harus berdoa dan berusaha agar pilihan hidupku menjadi imam bisa tercapai.

Tidak ada komentar: