Minggu, 10 Januari 2010

Hidup adalah Anugerah..


Aku dan Keluarga

Aku lahir di Jakarta pada tanggal 22 April 1991. Aku merupakan keturunan Flores. Ayahku adalah orang Flores dan ibuku merupakan keturunan Sunda. Aku merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Ayahku kini berumur 58 tahun dan ibuku berumur 41 tahun, bisa dikatakan bahwa mereka mempunyai perbedaan umur yang cukup jauh yaitu 17 tahun. Dalam keluargaku rasa persaudaraan sangat erat sekali. Ayahku yang merupakan keturunan Flores mempunyai hubungan yang sangat baik dengan saudara-saudaranya, sama halnya dengan ibuku yang keturunan Sunda. Aku bangga mempunyai orangtua seperti mereka karena mereka menyayangiku.
Dalam keluarga aku adalah anak laki-laki tertua sebelum dua orang adikku. Hubunganku dengan kedua orangtua sangat baik, ketika masih kecil aku sangat dekat dengan ayahku. Ayahku selalu mengajakku ketika ia harus bekerja atau mengunjungi suatu proyek. Ayahku merupakan tipe orang pekerja keras dan keras kepala. Mungkin aku sama dengan dirinya, tetapi aku seorang yang sabar sama seperti ibuku. Aku mempunyai satu kakak dan dua adik yang kusayangi. Waktu kecil hubunganku dengan kakakku kurang harmonis, aku selalu betengkar dengannya. Sampai saat ini aku mempunyai hubungan yang baik dengannya. Ia sudah menjadi kakak yang baik dan dewasa. Aku mempunyai adik perempuan dan laki-laki, hubunganku dengan mereka sangat baik. Aku berusaha menjadi kakak yang baik untuk mereka.
Aku berharap mereka dapat sukses dalam menjalani kariernya di masa depan nanti. Ketika aku kecil, aku selalu pergi ke gereja dengan orang tuaku. Dahulu ayahku seorang ketua lingkungan, aku sering disuruh olehnya untuk memberi kabar kepada orang-orang kalau ada ibadat rosario atau ibadat lainnya. Keaktifanku dalam hal itu membuat diriku menjadi dikenal oleh banyak orang-orang. Aku bersyukur dengan keadaan keluargaku sampai saat ini. Mereka semua tetap harmonis dalam berhubungan sebagai satu keluarga.



Masa Sekolah dan Pergaulanku

Aku memulai pendidikan kanak-kanak di sekolah Nusa Melati. Kemudian aku melanjutkan pendidikan dasar di sekolah Nusa Melati juga. Awalnya aku takut untuk bersekolah karena aku takut berpisah dengan orang tua. Ternyata sekolah itu tidak berpisah dengan orang tua saat aku merasakan sekolah itu bagaimana. Di sekolah teman-teman menyukai kepribadianku, mereka juga menyukai sifatku. Ketika bersekolah aku di jenjang pendidikan dasar aku dikenal sebagai anak yang pemalu. Terkadang aku sok dewasa diantara mereka.
Lulus dari jenjang pendidikan dasar, aku melanjutkan sekolah di SMP Sint Joseph. Memang sekolah ini terkenal dengan anak-anak yang suka berkelahi (tawuran) dengan sekolah lain. Aku disekolahkan di sana bukan karena keinginanku tetapi karena keadaan ekonomi keluargaku yang rendah. Aku mengorbankan keinginanku untuk sekolah yang berstandar nasional. Aku takut akan hidup asrama karena hidupnya begitu keras. Sejak itu aku menjadi anak panti asuhan Vincentius Putera karena aku tinggal di asrama. Selama tinggal di panti aku merasa tidak nyaman. Perasaan tidak nyaman itu diakibatkan oleh teman-temanku. Aku sering sekali dilecehkan ataupun dibuat sakit hati. Bisa dikatakan bahwa asrama itu seperti hutan rimba. Di sana ditanamkan hukum rimba ”Siapa yang kuat dia yang menang”. Aku menyadari bahwa diriku lemah. Aku bukanlah orang yang kuat dan berani untuk mengatsi konflik ataupun permasalahan yang ada. Perasaan sakit hati telah menumpuk selama aku tinggal di panti asuhan. Terkadang aku ingin menangis dan mengumdurkan diri dari asrama tersebut. Aku tidak tahan dengan sikap teman-temanku. Aku berdoa kepada Tuhan agar aku dikuatkan. Diantara teman-temanku, ada anak yang baik. Ia mau menjagaku dari teman-teman yang nakal. Sampai saat ini pun aku menjadi sahabat dekat dengannya. Kami sangat akrab bila bertemu. Untungnya aku mempunyai potensi dalam bidang akademik. Ketika SMP aku bisa dikatakan sebagai orang yang pandai. Dengan kepandaian itulah aku bisa mengajari temanku sehingga mereka juga baik terhadapku. Aku merupakan anak yang berprestasi. Aku pun aktif dalam kegiatan OSIS, di sana aku menjadi seksi di bidang rohani. Aku merupakan anak yang tidak banyak tingkah laku. Aku juga merupakan orang yang penurut. Selama tinggal di panti hiduku rohaniku lebih baik. Aku bisa berdoa pagi, menddengarkan renungan dari pengasuh pada pagi hari. Aku merasa bersyukur bisa dekat dengan Tuhan.Selama tinggal di panti aku mengenal bagaimana hidup itu, hidup yang keras dan penuh tantangan. Bagiku ini merupakan pengalaman yang istimewa dan berbeda dengan teman-temanku yang lain.
Usai pendidikan SMP, aku melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu masuk dalam pendidikan calon imam. Aku masuk Seminari Menengah Wacana Bhakti. Sesungguhnya aku tidak punya keinginan untuk menjadi imam. Entah kenapa Tuhan memberikan jalan ini kepadaku. Di sinilah aku mencoba mengolah panggilanku menjadi seorang imam. Aku mulai banyak belajar beradaptasi dengan keadaan seminari. Di sinilah aku menemukan siapa diriku, aku lebih mengenal diriku secara dalam. Aku pun mulai memahami karakter banyak orang. Aku di sini belajar untuk memfokuskan diriku pada Tuhan. Aku merasa bahagia dapat tinggal di seminari ini. Aku bahagia dengan kehadiran teman-teman komunitasku. Aku merasakan ada perbedaan suasana dengan teman-teman komunitasku di panti ashuhan. Aku pun mulai meningkatkan hidup rohaniku, aku meningkatkan hidup doaku terhadap Tuhan. Dengan modal inilah aku bisa hidup dan dapat hidup pada jalan kebenaran. Di seminari ini pula aku mengembankagn diriku menjadi pribadi yang dewasa dan lebih matang.

Aku dan Hidup Menggerejawi

Dari kecil aku dibina sebagai orang katolik. Ayahku seorang katolik dan sebelum menikah ibuku seorang kristen Pasundan. Tetapi akhirnya ibuku menjadi katolik dan menikah dengan ayahku. Aku dibaptis ketika masih kecil, umur satu tahun. Aku tumbuh menjadi anak katolik. Aku dibesarkan dalam lingkungan yang dihuni oleh orang-orang katolik. Aku dikenal sebagai orang yang ringan tangan. Ayahku seorang ketua lingkungan, aku sering disuruh olehnya untuk memberi kabar kepada orang-orang kalau ada ibadat rosario atau ibadat lainnya. Aku pun sering mengikuti ibadat di lingkungan. Keaktifanku dalam kegiatan itu membuat diriku menjadi dikenal oleh banyak orang-orang. Biasanya aku gereja seminggu sekali sebagaimana anak remaja pada umunya.
Ketika di panti setiap jumat pertama aku pergi ke gereja. Aku bukanlah anak yang aktif dalam kehidupan menggereja. Aku bukanlah seorang misdinar seperti teman-temanku di seminari. Dahulu aku adalah pemazmur kecil sejak kelas empat SD. Aku bersyukur kepada Tuhan karena aku diberi suara untuk memuji-Nya. Di lingkungan rumah aku pun terlibat dalam mudika tetapi tidak begitu aktif. Di asrama Vincentius Putera aku hanya terlibat dalam paduan suara anak-anak panti. Aku bukanlah seorang misdinar ketika di paroki Hati Kudus, Kramat. Aku bersyukur karena di dalam asrama aku masih diberi hidup doa oleh pengasuh yaitu sebuah renungan sebelum sarapan pagi. Aku pun bersyukur bahwa aku bisa menjadi anak yang rajin berdoa sebelum tidur. Di seminari aku memulai untuk meningkatkan hidup rohaniku. Aku mulai dengan doa pribadiku secara rutin. Di sini pun terkadang aku berdevosi kepada Bunda Maria. Setiap hari aku selalu menyediakan waktuku untuk Tuhan. Di dalam kesulitan pun aku berdoa kepada-Nya agar diberikan rahmat untuk bisa keluar dari kesulitan yang kualami. Aku pun menjadi aktif di seminari ini. Aku bisa belajar banyak untuk meningkatkan hidup rohaniku.
Dalam hidup doa yang kulakukan, aku merasa ada kedekatan dengan Tuhan. Aku yakin bahwa segala sesuatu yang diberikan oleh-Nya itu merupakan hal yang terbaik bagi diriku. Sampai saat ini tepatnya di kelas tiga, aku memfokuskan diriku terhadap hidup rohani. Bagi hidup rohani merupakan dasar yang harus dimiliki setiap manusia. Dan semoga aku pun dapat selalu bersyukur terhadap apa yang terjadi dalam hidupku.

Aku dan Kepribadianku
Memahami diri sendiri bukanlah hal yang mudah, sesorang perlu melihat secara dalam perjalanan hidup telah yang dilalui. Sejauh mana aku memahami kepribadianku? Ketika kecil aku adalah anak yang pemalu, aku merupakan anak yang berbakti kepada orang tua. Aku terkadang merasa seperti jagoan, orang yang berkuasa. Sifat-sifat itu kualami ketika aku masih duduk di bangku SD.
Memasuki jenjang SMP, aku pun masih pemalu terhadap sesuatu yang menjadi keinginanku. Dengan wanita pun aku merasa malu, aku tidak tahu kenapa?. Aku belum bisa memahami diriku. Aku terkadang takut dengan wanita. Sampai saat ini pun aku belum pernah mengalami pacaran. Aku memang suka terhadap wanita tetapi aku tidak berani mengungkapkan perasaan yang kualami itu. Pergaulanku dengan wanita memang kurang, aku lebih terfokus untuk belajar mewujudkan masa depanku. Lagi pula pergaulanku dengan wanita sangat kurang. Aku berkomunikasi dengan mereka pun kalau ada sesuatu yang berhubungan dengan pelajaran atau hal penting lainnya. Tetapi ketika bergabung dengan teman-teman Gonzaga aku menjadi tempat curhat bagi mereka yang membutuhkan bantuan dalam permasalahan yang teman-temanku alami. Kedekatanku dengan siswi-siswi Gonzaga kujadikan pelajaran untuk menggembalakan umat pada nantinya. Aku belajar bagaimana memahami perasaan seorang wanita. Aku belajar banyak hal dari pengalaman teman-temanku di Gonzaga. Mataku telah terbuka terhadap apa yang sedang dialami banyak orang masa kini. Dalam masa pubertas aku pun mengalami yang namanya mimpi basah. Pertama kali aku mimpi basah terjadi ketika usiaku 11 tahun atau ketika aku masih duduk di bangku kelas enam SD. Awalnya aku tidak mengerti akan apa yang kualami, tapi aku bertanya kepada orang tuaku. Mereka menjelaskan bahwa aku sudah bisa tumbuh menjadi dewasa. Dalam masa remaja yang kujalani aku mengenal yang namanya masturbasi. Aku mengenal tindakan semacam itu dari teman-temanku di asrama Vincentius Putera. Aku pun mengalami hal semacam itu tetapi aku tidak menjadikan hal tersebut menjadi sesuatu yang adiktif. Untuk menghindari hal semacam itu pun aku menggunakan waktuku untuk melkukan tindakan lain yang bisa mengembangkan diriku. Aku selalu berdoa kepada Tuhan agar bisa diberikan kekuatan terhadap godaan-godaan yang ada.
Masuk seminari aku mulai mengolah memulai persaudaraanku dengan teman-teman komunitasku. Aku dikenal sebagai orang yang keras, tegas dan cuek. Tetapi sesungguhnya aku pun orang yang bisa dipengaruhi oleh orang lain apabila aku bisa merasa nyaman. Banyak hal yang kulakukan di seminari ini, sikap positif maupun sikap negatif (kenakalan seminaris). Aku mengalami banyak hal ditempat ini. Dari pengalaman yang negatif aku belajar untuk mengambil makna positif bagi perkembangan diriku. Memasuki tahun kedua di seminari hidupku tidak terarah lagi. Sikapku menjadi urakan maupun tidak mempedulikan apa yang terjadi pada diriku dan orang lain. Setiap kesalahan yang dilakukan kurenungkan dan kurefleksikan. Aku bersyukur karena Tuhan masih senantiasa membimbingku pada jalan yang benar. Meskipun sikapku buruk tetapi aku mau berubah dan mau untuk memperbaikinya. Aku bukanlah orang yang mudah menyerah untuk memperoleh kebenaran.
Di seminari ini pun aku mempunyai prinsip bahwa aku harus membuka diriku terhadap orang lain. Aku tidak suka apabila ada sesuatu yang disembunyikan di belakangku. Aku pun belajar untuk bersikap jujur terhadap diriku dan orang lain. Aku merasa dengan kejujuran itu hidupku lebih nyaman dan bisa terorientasi dengan jelas. Di Gonzaga aku dikenal teman-teman sebagai orang yang sombong maupun cuek. Aku menyadari bahwa aku bukanlah orang yang seperti itu, tapi aku mencoba untuk belajar menjadi lebih dewasa. Dengan kepribadian yang matang aku pun bisa tampil di depan orang lain dengan lebih berani. Bagiku semua ini adalah proses yang perlu dijalani dan disyukuri. Segala pengalaman akan menjadi guru yang lebih baik untuk membentuk pribadiku yang matang.

Tidak ada komentar: