Sabtu, 24 April 2010

Durian Rp 5000

Januari merupakan bulan pertama dalam satuan tahun. Awal tahun yang penuh sukacita selalu membawa harapan pada diri kita masing-masing. Harapan yang selalu menuju kesuksesan dalam hidup. Sukses dalam arti, mampu mewujudkan apa yang dicita-citakan dan membentuk pribadi yang berkualitas, serta mampu menjadi teladan bagi orang lain.
Suatu malam, dua orang seminaris ingin pergi ke sebuah tempat foto copy untuk menjilid beberapa laporan ilmiah para seminaris kelas tiga. Dua orang seminaris tersebut bernama Edu dan Hena, layaknya panggilan di seminari. Mereka pun meminta izin kepada salah satu frater. Perizinan pun diberikan oleh frater , kemudian mereka segera pergi ke sebuah tempat foto copy yang tidak jauh dari seminari tempat kami tinggal. Tibalah mereka di sebuah tempat foto copy dan ternyata tempat tersebut tutup. Dengan perasaan terpaksa mereka harus mencari tempat foto copy lain. Untungnya, mereka tahu dimana tempat foto copy lainnya berada. Tibalah mereka di tempat foto copy yang kedua, ternyata tutup juga.
“Apes nih kita” , tutur Hena.
“Na, gimana kalau kita pergi ke tempat foto copy di Ampera?” ,tanya Edu.
“Jauh donk, okelah kalau begitu” ,jawab Hena.
Sesuai dengan kesepakatan mereka pergi ke Ampera untuk mencari tempat foto copy berikutnya. Dalam perjalanan, mereka saling berbagi cerita pengalaman. Mereka saling tukar pikiran layaknya orang berideologi. Tibalah mereka di tempat foto copy berikutnya dan ternyata tutup juga.
“Aduh sial banget sih, lagi-lagi tutup” , tutur Hhena (sambil mengusap wajah yang penuh keringat).
“Ya mau gimana lagi na?” , seru Edu.
“Du gimana kalau kita jalan lagi sampai Cilandak?” usul hena.
“Okelah kalau begitu” ,jawab Edu.
Hiruk-pikiuk jalanan membuat mereka putus asa mencari tempat foto copy. Akhirnya mereka kembali berjalan mencari tempat foto copy berikutnya. Debu yang bercampur keringat mengiringi mereka berjalan. Ketika mereka sedang berjalan, di seberang jalan mereka melihat penjual durian dengan harga murah.
“Du gimana kalau nanti kita beli durian setelah menjilid?” ,tanya Hena.
“Ya udah nanti kita patungan aja” ,jawab Edu.
“Ya udahlah, yang terpenting kita jilid dulu ini makalah” ,tutur Hena.
Mereka kemudian berjalan kembali dan akhirnya mereka menemukan sebuah tempat foto copy yang masih buka. Mereka pun segara member laporan ilmiah mereka untuk dijilid. Selesai dijilid mereka membayar biaya penjilidan kepada tukang foto copy tersebut.
“Murah juga ya du, hanya Rp 2500 setiap satuannya” ,sahut Hena.
“Itu mah standar na” ,tutur edu.
“Ya udah sekarang kita pulang ke seminari” ,tutur Edu.
“Ntar dulu lah, kita aja belum beli durian” ,tutur Hena.
“Owh iya ya, sorry gw lupa” ,tutur edu (sambil tertawa).
Mereka berjalan kembali ke arah sebaliknya. Kemudian mereka menghampiri penjual durian dan melihat-lihat durian mana yang bagus. Dengan keahlian yang tidak seberapa mereka memilih durian yang harganya Rp 5000. Mereka akhirnya membeli dua buah durian. Dengan perasaan riang mereka membawa durian itu pulang ke seminari. Selama perjalanan pulang banyak orang-orang di jalan yang melihat ke arah mereka. Mereka dengan cuek tetap berjalan dengan perasaan riang. Tibalah mereka di depan pos satpam seminari.
“Waduh enak tuh durian” ,sahut pak satpam.
“Iya nih pak, lagipula harganya juga murah cuma Rp 5000” ,sahut hena (sambil promosi).
Mereka akhirnya membawa pulang durian ke unit 1 dimana mereka tinggal. Mereka pun membangunkan teman-teman angkatannya untuk makan durian bersama. Di sana pun ada Vano, Bekti, Almo, dan Carol yang lagi demam durian. Dengan penuh semangat mereka turun dari kamar untuk makan durian.
“Kita buka yang ini dulu ya” seru Hena.
“Ya udah” ,jawab Vano (dengan tidak sabar).
Durian pertama rasanya lumayan enak meskipun harganya cuma Rp 5000. Kemudian mereka mulai membuka durian yang kedua.
“Waduh kulitnya masih keras nih” ,tutur Edu (sambil mencoba membuka).
“Ini mah masih keras tau” ,sahut Bekti.
“Berarti nggak kita makan donk nih durian” ,sahut Edu.
”Ya sia-sia donk beli yang satu ini” ,sahut Hena.
“Ya udahlah namanya juga durian seharga Rp 5000” ,sahut Carol.
“Kalau mau enak ya durian montong seharga Rp 40.000” ,sahut vano.
Melihat durian yang matang dan yang belum matang mereka menyimpulkan bahwa ini ini sama halnya dengan kepribadian orang yang dewasa dan belum dewasa. Mereka menyimpulkan bahwa pribadi yang dewasa adalah pribadi yang mampu membuka dirinya terhadap segala sesuatunya, terlebih terhadap panggilan dari Tuhan sendiri kepada umatnya. Hal itu sama dengan durian yang matang yang mudah dibuka dan bisa dimakan. Sebaliknya bahwa pribadi yang belum dewasa adalah pribadi yang belum membuka dirinya secara dalam terhadap segala sesuatunya terlebih panggilan dari Tuhan sendiri. Makanya hal tersebut sama dengan durian yang belum matang belum matang yang masih keras untuk dibuka. Ditambah masih memerlukan waktu yang lama untuk menjadi matang atau kemampuan seseorang untuk menjadi dewasa dalam menanggapi panggilan dari Tuhan.

Tidak ada komentar: