Sabtu, 24 April 2010

Kedatangan Motivator...

Suatu hari di tengah kesibukan ujian blok (mid semester), para seminaris mengikuti rekoleksi. Biasanya setiap kali rekoleksi yang membawakan adalah para rohaniwan khusunya, para frater, imam tetapi rekoleksi kali ini dibawakan oleh awam. Rekoleksi ini dilaksanakan dalam dua hari yang dimulai pada hari sabtu sore dan berakhir pada hari minggu siang. Rekoleksi ini sungguh berbeda dari rekoleksi biasanya. Dalam rekoleksi ini awam tersebut menyertainya dengan game dan film sebagai hiburan. Mungkin kegiatan ini bisa dikatakan bukan rekoleksi melainkan seminar mengenai “Sejauh mana kehidupan studiku saat ini?”. Orang yang membawakan rekoleksi tersebut adalah Stephanus Rizal yaitu seorang motivator di Indonesia yang sukses seperti Mario Teguh. Ia didampingi oleh satu rekannya yang juga sedang belajar bagaimana menjadi seorang motivator yang handal. Kali ini ia membagikan pengalaman suka maupun duka mengenai hidupnya. Sesungguhnya ia ingin mengajak para seminaris untuk tetap selalu bersemangat dan selalu bersyukur dalam menjalani hidup dan panggilan sebagai calon imam serta studi yang sedang dihadapi.
Mad (Make a difference,) itulah kata yang diungkapkan olehnya kepada kami para seminaris. Tentunya, kita sebagai pribadi harus mampu berbuat sesuatu yang berbeda dan tentunya harus positif serta tidak merugikan orang lain. “Pak Rizal” ,begitulah panggilannya. Tuhan memanggil dia untuk menjadi motivator . Dalam rekoleksi ini ia menunjukkan berbagai film yang bertujuan agar kita selalu bersyukur kepada Tuhan atas kehidupan yang telah DIA berikan.
Kemudian pak Rizal menunjukkan suatu aksi kepada para seminaris yaitu menjatuhkan bohlam lampu pada keramik dalam sebuah kotak. Kami terkejut bahwa bohlam itu tidak pecah. “kok bisa?” ,ungkap dalam pikiran kami masing-masing. Akhirnya seorang seminaris mencoba untuk menjatuhkan bohlam pada keramik. Awalnya bohlam selalu pecah ketika dijatuhkan tetapi pada percobaan yang kesekian kalinya bohlam tersebut tidak pecah ketika dijatuhkan. Sesungguhnya apa yang bisa membuat bohlam yang dijatuhkan tersebut tidak pecah?. Jawabannya adalah yaitu dengan kekuatan pikiran dan keyakinan dari dalam diri kita. Bagaimana kita membentuk mind set kita terhadap sesatu yang yang dilakukan?. Yang diperlukan adalah sebuah keyakinan bahwa kita bisa melakukan sesuatu yang kita anggap sulit. Jangan pernah ada keraguan dalam bertindak, karena terkadang keraguan membuat kegagalan terhadap apa yang kita lakukan. Ia juga mengungkapkan bahwa kita harus mempunyai impossible dream yaitu sesuatu yang tidak mungkin kita raih. Tetapi dari hal itu kita bisa terus bersemangat untuk meraih yang kita inginkan tersebut . Dan yang menjadi motivator bagi diri kita adalah diri kita sendiri, apakah kita mau atau tidak untuk meraih apa yang menjadi keinginan dan harapan kita. Dan yang menjadi dasar adalah penyerahan diri dan kepercayaan kita terhadap Tuhan bahwa DIA senantiasa memberikan yang terbaik bagi hidup kita.

Tidak ada komentar: