Merupakan pengalaman menarik ketika harus menjadi ketua panitia dalam rangka rekreasi komunitas Seminari Wacana Bhakti yaitu mendaki gunung Gede-Pangrango, Cibodas, Jawa barat. Acara yang berlangsung pada tanggal 21-23 April 2008 ini sungguh sebagai moment yang menyenangkan. Acara ini ditangani sendiri oleh anak-anak pecinta alam Seminari Wacana Bhakti yaitu AMASON. Organisasi ini mempunyai kepanjangan yaitu Amatorum Societas Naturae yang artinya kelompok pecinta alam. Organisasi ini dibentuk dalam naungan Seminari Wacana Bhakti.
Sebagai ketua acara ini, banyak persiapan yang harus saya lakukan sehingga acara tersebut dapat berjalan dengan lancar. Awal persiapan yang saya lakukan adalah menyusun proposal untuk acara ini dan mendata komunitas Seminari Wacana Bhakti yang ingin mengikuti acara rekreasi tersebut.
Saya merasa sibuk sekali akan acara tersebut. Memang bukanlah hal yang mudah untuk mengatur jalannya acara tersebut agar berjalan dengan lancar. Saya sendiri harus sibuk untuk mencari dan menyewa tronton untuk pergi ke Cibodas. Ini merupakan tanggung jawab yang besar bagi diri saya menjadi ketua panitia acara tersebut. Banyak hal yang saya alami dalam persiapan entah saya harus pergi kesana untuk registrasi dan survey tempat. Ini merupakan bagian dari tanggung jawab untuk mengurusi acara tersebut.
Akhirnya pun pada tanggal 21 April 2008 kami para seminaris dan beberapa frater pergi ke Cibodas untuk hiking bersama. Sangat menegangkan ketika harus menunggu satu orang lagi yang baru pulang dari Panti asuhan Vincentius Putera yaitu adik kelas saya ketika SMP. Kami pergi dengan menggunakan dua buah truk tronton milik Kopasus. Sebelum kami berangkat hujan pun tiba tetapi tetap saja kami semua melanjutkan perjalanan.
Selama perjalanan menuju Cibodas kami terpaksa menutup pintu bagian belakang mobil agar terhindar dari air hujan. Perjalanan pun ditempuh selama dua jam, dalam perjalanan itu kami merasa kedinginan ketika harus melewati daerah puncak. Dalam suasana yang dingin itu pun beberapa teman seminaris ada yang merokok untuk menghangatkan badan. Merokok bukan menjadi larangan ketika kami semua berada di tempat yang dingin, lagipula saya sebagai ketua acara ini sudah meminta izin kepada romo Rektor agar kami diizinkan merokok ketika sampai di Cibodas.
Hujan pun senantiasa menemani kami selama perjalanan dari Jakarta sampai cibodas. Akhirnya kami tiba disana dan ternyata hujan pun masih turun dengan deras. Pakaian kami pun basah dan kami semua berteduh di sebuah warung yang namanya “Warung Ema”. Anak-anak yang mendaki gunung biasa singgah di sana untuk makan. Makanan yang dijual disana pun relatif murah.
Kami para seminaris yang ingin mendaki gunung makan disana dan menginap semalam di warung itu. Sampai disana kami langsung makan malam sementara itu saya dan beberapa teman seminaris mendaki terlebih dahulu. Selama perjalanan menuju tempat camp yaitu Kandang Badak, saya dan beberapa teman saya merasa kedinginan tetapi rasa dingin itu bias kami hadapi selama perjalanan.
Kami menempuh perjalanan dalam keadaan gelap hanya dengan tiga buah senter yang menerangi jalan kami. Memang sangat menantang bisa mendaki malam, selain melatih mental, fisik pun akan terlatih dengan baik. Perjalanan yang kami tempuh kurang lebih enam jam. Kami berangkat dari pukul 19.00 sampai 23.30 malam. Kegelapan menyelimuti kami selama menempuh perjalanan dari bawah hingga ke atas yaitu Kandang Badak.
Sampai di sana kami langsung mendirikan tenda dan bersiap untuk istirahat. Sebelum istirahat kami makan malam dulu sehingga kami dapat tidur dengan nyaman. Dalam keadaan yang dingin tentu saja kami membutuhkan energi serta kalori yang begitu banyak. Untung saja kami bawa makanan yang manis seperti coklat dan gula merah. Udara terasa sangat dingin sekali tetapi kami menggunakan sleeping bag untuk tidur sehingga terasa hangat.
Pagi pun tiba dan saya malakukan pemanasan agar tubuh terasa hangat. Ternyata saya bangun pada pukul 10.00 pagi dan saya menanti rombongan kedua yng sedang dalam perjalanan. Saya dan teman-teman lainnya membuat sarapan agar bisa mengisi energi yang telah hilang. Khirnya pada pukul 11.00 rombongan kedua dari seminari datang, mereka sungguh kelelahan dan kehausan. Mereka datang dan sampailah di Kandang Badak. Mereka langsungmendirikan tenda dan setelah itu kami semua langsung melanjutkan pendakian ke gunung Pangrango. Perjalanan ditempuh kurang lebih selama 2 jam. Medan yang dilewati pun cukup menantang dan menyulitkan. Setelah mendaki gunung pangrango kami kembali ke tempat camp ketika sore menjelang malam. Akhirnya kami makan malam dan kami membuat kopi agar bisa mengahngatkan tubuh kami.
Ternyata pada hari itu saya berulang tahun yang ke 17 yaitu pada tanggal 22 April. Saya merasa bahagia sekali bisa merayakan ulang tahun saya di gunung. Pada keesokan harinya kami mulai packing barang-barang dan harus turun lagi. Tetapi pada pagi hari kami mencoba melihat sunrise dari puncak gunung Gede tetapi terhalang oleh kabut sehingga kita tidak dapat menikmati sunrise. Akhirnya kami turun pada siang hari, kami mengangkut sampah yang ada di jalan. Sampai di bawah kami makan malam dan kami kami kembali ke seminari lagi. Kami sangat lelah dan letih.
Dari acara ini kita bisa belajar untuk mencintai Tuhan lewat alam seperti semboyan AMASON yaitu “Deum Per Naturae Amamus”.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

1 komentar:
mohon maaf saya ingin bertanya, apakah ada alamat email dari kempat jendral pendiri AMASON? saya mohon informasinya untuk mendukung karya tulis saya seputar AMASON. terimakasih #29
Posting Komentar