Menjadi orang yang murah hati itu tidak mudah. Tentunya kita harus memiliki sikap rendah hati.Kita tidak boleh meninggikan diri sendiri terhadap orang lain.Apabila hal tersebut kita lakukan, kita tidak akan bisa menjadi orang yang rendah hati. Kita akan menjadi pribadi yang angkuh, meremehkan segala sesuatu. Terkadang kita sulit menerima kekurangan yang ada pada diri kita maupun orang lain. Kita menuntut diri kita maupun orang lain agar sempurna sesuai apa yang kita inginkan. Dengan begitu akan kita akan sulit menjadi orang yang dewasa. Orang yang dewasa adalah orang yang mampu mengenali kepribadian dirinya secara matang, berani menerima kekurangan yang ada dalam dirinya, mampu membedakan mana perbuatan yang baik dan tidak baik. Menjadi dewasa adalah sebuah pilihan dalam hidup. Dalam hal ini seseorang dituntut untuk bisa bijaksana, rendah hati dan murah hati. Dengan sikap tersebut seseorang mendapatkan kebahagiaan dalam hidup. Terkadang kita sering tidak sadar dengan apa yang kita lakukan. Kita sering egois yaitu suatu sikap yang hanya mementingkan kepentingan diri kita sendiri. Kita sering tidak memikirkan perasaan atau keadaan orang lain. Apakah kita puas melihat orang lain yang menderita?
Kesempatan! Ya itulah sesuatu yang harus diberikan kepada sesama kita yang terkadang sulit untuk menunjukkan eksistensi dirinya terhadap publik.Dengan memberikan kesempatan kepada sesama kita berarti kita mampu berbagi dengan sesama maupun Tuhan sendiri.Memang kita sulit untuk membagi kesempatan kepada sesama.Justru malah terkadang kita berlomba-lomba berebut kesempatan. Ini merupakan tanda bahwa kita adalah manusia yang tidak pernah puas, segala sesuatunya tidak pernah disyukuri secara bijaksana.
Kamis, 29 April 2010
Sabtu, 24 April 2010
DEUM PER NATURAE AMAMUS
Merupakan pengalaman menarik ketika harus menjadi ketua panitia dalam rangka rekreasi komunitas Seminari Wacana Bhakti yaitu mendaki gunung Gede-Pangrango, Cibodas, Jawa barat. Acara yang berlangsung pada tanggal 21-23 April 2008 ini sungguh sebagai moment yang menyenangkan. Acara ini ditangani sendiri oleh anak-anak pecinta alam Seminari Wacana Bhakti yaitu AMASON. Organisasi ini mempunyai kepanjangan yaitu Amatorum Societas Naturae yang artinya kelompok pecinta alam. Organisasi ini dibentuk dalam naungan Seminari Wacana Bhakti.
Sebagai ketua acara ini, banyak persiapan yang harus saya lakukan sehingga acara tersebut dapat berjalan dengan lancar. Awal persiapan yang saya lakukan adalah menyusun proposal untuk acara ini dan mendata komunitas Seminari Wacana Bhakti yang ingin mengikuti acara rekreasi tersebut.
Saya merasa sibuk sekali akan acara tersebut. Memang bukanlah hal yang mudah untuk mengatur jalannya acara tersebut agar berjalan dengan lancar. Saya sendiri harus sibuk untuk mencari dan menyewa tronton untuk pergi ke Cibodas. Ini merupakan tanggung jawab yang besar bagi diri saya menjadi ketua panitia acara tersebut. Banyak hal yang saya alami dalam persiapan entah saya harus pergi kesana untuk registrasi dan survey tempat. Ini merupakan bagian dari tanggung jawab untuk mengurusi acara tersebut.
Akhirnya pun pada tanggal 21 April 2008 kami para seminaris dan beberapa frater pergi ke Cibodas untuk hiking bersama. Sangat menegangkan ketika harus menunggu satu orang lagi yang baru pulang dari Panti asuhan Vincentius Putera yaitu adik kelas saya ketika SMP. Kami pergi dengan menggunakan dua buah truk tronton milik Kopasus. Sebelum kami berangkat hujan pun tiba tetapi tetap saja kami semua melanjutkan perjalanan.
Selama perjalanan menuju Cibodas kami terpaksa menutup pintu bagian belakang mobil agar terhindar dari air hujan. Perjalanan pun ditempuh selama dua jam, dalam perjalanan itu kami merasa kedinginan ketika harus melewati daerah puncak. Dalam suasana yang dingin itu pun beberapa teman seminaris ada yang merokok untuk menghangatkan badan. Merokok bukan menjadi larangan ketika kami semua berada di tempat yang dingin, lagipula saya sebagai ketua acara ini sudah meminta izin kepada romo Rektor agar kami diizinkan merokok ketika sampai di Cibodas.
Hujan pun senantiasa menemani kami selama perjalanan dari Jakarta sampai cibodas. Akhirnya kami tiba disana dan ternyata hujan pun masih turun dengan deras. Pakaian kami pun basah dan kami semua berteduh di sebuah warung yang namanya “Warung Ema”. Anak-anak yang mendaki gunung biasa singgah di sana untuk makan. Makanan yang dijual disana pun relatif murah.
Kami para seminaris yang ingin mendaki gunung makan disana dan menginap semalam di warung itu. Sampai disana kami langsung makan malam sementara itu saya dan beberapa teman seminaris mendaki terlebih dahulu. Selama perjalanan menuju tempat camp yaitu Kandang Badak, saya dan beberapa teman saya merasa kedinginan tetapi rasa dingin itu bias kami hadapi selama perjalanan.
Kami menempuh perjalanan dalam keadaan gelap hanya dengan tiga buah senter yang menerangi jalan kami. Memang sangat menantang bisa mendaki malam, selain melatih mental, fisik pun akan terlatih dengan baik. Perjalanan yang kami tempuh kurang lebih enam jam. Kami berangkat dari pukul 19.00 sampai 23.30 malam. Kegelapan menyelimuti kami selama menempuh perjalanan dari bawah hingga ke atas yaitu Kandang Badak.
Sampai di sana kami langsung mendirikan tenda dan bersiap untuk istirahat. Sebelum istirahat kami makan malam dulu sehingga kami dapat tidur dengan nyaman. Dalam keadaan yang dingin tentu saja kami membutuhkan energi serta kalori yang begitu banyak. Untung saja kami bawa makanan yang manis seperti coklat dan gula merah. Udara terasa sangat dingin sekali tetapi kami menggunakan sleeping bag untuk tidur sehingga terasa hangat.
Pagi pun tiba dan saya malakukan pemanasan agar tubuh terasa hangat. Ternyata saya bangun pada pukul 10.00 pagi dan saya menanti rombongan kedua yng sedang dalam perjalanan. Saya dan teman-teman lainnya membuat sarapan agar bisa mengisi energi yang telah hilang. Khirnya pada pukul 11.00 rombongan kedua dari seminari datang, mereka sungguh kelelahan dan kehausan. Mereka datang dan sampailah di Kandang Badak. Mereka langsungmendirikan tenda dan setelah itu kami semua langsung melanjutkan pendakian ke gunung Pangrango. Perjalanan ditempuh kurang lebih selama 2 jam. Medan yang dilewati pun cukup menantang dan menyulitkan. Setelah mendaki gunung pangrango kami kembali ke tempat camp ketika sore menjelang malam. Akhirnya kami makan malam dan kami membuat kopi agar bisa mengahngatkan tubuh kami.
Ternyata pada hari itu saya berulang tahun yang ke 17 yaitu pada tanggal 22 April. Saya merasa bahagia sekali bisa merayakan ulang tahun saya di gunung. Pada keesokan harinya kami mulai packing barang-barang dan harus turun lagi. Tetapi pada pagi hari kami mencoba melihat sunrise dari puncak gunung Gede tetapi terhalang oleh kabut sehingga kita tidak dapat menikmati sunrise. Akhirnya kami turun pada siang hari, kami mengangkut sampah yang ada di jalan. Sampai di bawah kami makan malam dan kami kami kembali ke seminari lagi. Kami sangat lelah dan letih.
Dari acara ini kita bisa belajar untuk mencintai Tuhan lewat alam seperti semboyan AMASON yaitu “Deum Per Naturae Amamus”.
Sebagai ketua acara ini, banyak persiapan yang harus saya lakukan sehingga acara tersebut dapat berjalan dengan lancar. Awal persiapan yang saya lakukan adalah menyusun proposal untuk acara ini dan mendata komunitas Seminari Wacana Bhakti yang ingin mengikuti acara rekreasi tersebut.
Saya merasa sibuk sekali akan acara tersebut. Memang bukanlah hal yang mudah untuk mengatur jalannya acara tersebut agar berjalan dengan lancar. Saya sendiri harus sibuk untuk mencari dan menyewa tronton untuk pergi ke Cibodas. Ini merupakan tanggung jawab yang besar bagi diri saya menjadi ketua panitia acara tersebut. Banyak hal yang saya alami dalam persiapan entah saya harus pergi kesana untuk registrasi dan survey tempat. Ini merupakan bagian dari tanggung jawab untuk mengurusi acara tersebut.
Akhirnya pun pada tanggal 21 April 2008 kami para seminaris dan beberapa frater pergi ke Cibodas untuk hiking bersama. Sangat menegangkan ketika harus menunggu satu orang lagi yang baru pulang dari Panti asuhan Vincentius Putera yaitu adik kelas saya ketika SMP. Kami pergi dengan menggunakan dua buah truk tronton milik Kopasus. Sebelum kami berangkat hujan pun tiba tetapi tetap saja kami semua melanjutkan perjalanan.
Selama perjalanan menuju Cibodas kami terpaksa menutup pintu bagian belakang mobil agar terhindar dari air hujan. Perjalanan pun ditempuh selama dua jam, dalam perjalanan itu kami merasa kedinginan ketika harus melewati daerah puncak. Dalam suasana yang dingin itu pun beberapa teman seminaris ada yang merokok untuk menghangatkan badan. Merokok bukan menjadi larangan ketika kami semua berada di tempat yang dingin, lagipula saya sebagai ketua acara ini sudah meminta izin kepada romo Rektor agar kami diizinkan merokok ketika sampai di Cibodas.
Hujan pun senantiasa menemani kami selama perjalanan dari Jakarta sampai cibodas. Akhirnya kami tiba disana dan ternyata hujan pun masih turun dengan deras. Pakaian kami pun basah dan kami semua berteduh di sebuah warung yang namanya “Warung Ema”. Anak-anak yang mendaki gunung biasa singgah di sana untuk makan. Makanan yang dijual disana pun relatif murah.
Kami para seminaris yang ingin mendaki gunung makan disana dan menginap semalam di warung itu. Sampai disana kami langsung makan malam sementara itu saya dan beberapa teman seminaris mendaki terlebih dahulu. Selama perjalanan menuju tempat camp yaitu Kandang Badak, saya dan beberapa teman saya merasa kedinginan tetapi rasa dingin itu bias kami hadapi selama perjalanan.
Kami menempuh perjalanan dalam keadaan gelap hanya dengan tiga buah senter yang menerangi jalan kami. Memang sangat menantang bisa mendaki malam, selain melatih mental, fisik pun akan terlatih dengan baik. Perjalanan yang kami tempuh kurang lebih enam jam. Kami berangkat dari pukul 19.00 sampai 23.30 malam. Kegelapan menyelimuti kami selama menempuh perjalanan dari bawah hingga ke atas yaitu Kandang Badak.
Sampai di sana kami langsung mendirikan tenda dan bersiap untuk istirahat. Sebelum istirahat kami makan malam dulu sehingga kami dapat tidur dengan nyaman. Dalam keadaan yang dingin tentu saja kami membutuhkan energi serta kalori yang begitu banyak. Untung saja kami bawa makanan yang manis seperti coklat dan gula merah. Udara terasa sangat dingin sekali tetapi kami menggunakan sleeping bag untuk tidur sehingga terasa hangat.
Pagi pun tiba dan saya malakukan pemanasan agar tubuh terasa hangat. Ternyata saya bangun pada pukul 10.00 pagi dan saya menanti rombongan kedua yng sedang dalam perjalanan. Saya dan teman-teman lainnya membuat sarapan agar bisa mengisi energi yang telah hilang. Khirnya pada pukul 11.00 rombongan kedua dari seminari datang, mereka sungguh kelelahan dan kehausan. Mereka datang dan sampailah di Kandang Badak. Mereka langsungmendirikan tenda dan setelah itu kami semua langsung melanjutkan pendakian ke gunung Pangrango. Perjalanan ditempuh kurang lebih selama 2 jam. Medan yang dilewati pun cukup menantang dan menyulitkan. Setelah mendaki gunung pangrango kami kembali ke tempat camp ketika sore menjelang malam. Akhirnya kami makan malam dan kami membuat kopi agar bisa mengahngatkan tubuh kami.
Ternyata pada hari itu saya berulang tahun yang ke 17 yaitu pada tanggal 22 April. Saya merasa bahagia sekali bisa merayakan ulang tahun saya di gunung. Pada keesokan harinya kami mulai packing barang-barang dan harus turun lagi. Tetapi pada pagi hari kami mencoba melihat sunrise dari puncak gunung Gede tetapi terhalang oleh kabut sehingga kita tidak dapat menikmati sunrise. Akhirnya kami turun pada siang hari, kami mengangkut sampah yang ada di jalan. Sampai di bawah kami makan malam dan kami kami kembali ke seminari lagi. Kami sangat lelah dan letih.
Dari acara ini kita bisa belajar untuk mencintai Tuhan lewat alam seperti semboyan AMASON yaitu “Deum Per Naturae Amamus”.
Menjadi Pribadi yang Tangguh....
Ini merupakan sebuah pengalaman yang ditempuh selama setahun dan seterusnya.
AMASON merupakan kelompok pecinta alam yang berada dalam naungan seminari. Dengan semboyan Deum Per Naturae Amamus yang artinya mencintai Tuhan melalui alam, mereka selalu berjalan dalam naungan Tuhan. Kelompok pecinta alam ini mempunyai ayat pegangan yaitu Mazmur 23, Mazmur 27, dan Yesus bin sirakh 2 : 1-4. Ayat-ayat tersebut sudah menjadi pegangan setiap anggota AMASON. Salah satu tujuan kelompok ini dibentuk adalah membina panggilan yaitu dengan membantu mengolah panggilan lewat kegiatan alam.
Aku sendiri adalah seorang anggota dari kelompok pecinta alam seminari ini. Pada tahun pertama di seminari aku menyelesaikan kaderisasai menjadi anggota kelompok ini. Dengan semangat dan motivasi yang kumiliki akhirnya pun aku bisa menjadi salah satu anggota dari kelompok pecinta alam ini. Memang tahap kaderisasi AMASON dibgai menjadi tiga tahap yaitu prakaderisasi, semikaderisasi, dan pelantikan. Awalnya empat orang yang mengikuti proses kaderisasi yaitu diriku dan tiga temanku tetapi pada akhirnya hanya tersisa dua yang dilantik menjadi amason. Memang ini adalah sebuah proses seleksi yang cukup ketat sama halnya dengan perjalanan panggilan sebagai calon imam yang sedang kutempuh. Menjadi amason bagiku merupakan panggilan yang tidak dimiliki oleh semua teman-temanku lainnya. Banyak pengalaman yang kutemukan selama proses kaderisasi meupun setelah menjadi anggota kelompok pecinta alam ini. Kedisiplinan, tangggung jawab, rasa menghargai, dan kekeluargaan merupakan hal-hal yang dibangun dalam organisasi ini. Kekeluargaan yang dibangun dalam organisasai ini sangat erat, bisa dikatakan bahwa kita sebagai keluarga harus bisa untuk sehati dan sejiwa. Aku bangga menjadi seorang anggota kelompok ini. Kepribadianku pun terbentuk dalam organisasi ini. Pengetahuanku mengenal alam pun semakin bertambah. Secara fisik, aku menjadi sehat dengan latihan fisik yang diberikan. Secara psikologis, mentalku menjadi semakin percaya diri dan tidak takut akan tantangan yang kuhadapi pada nantinya.Bagiku organisasai ini memberikan dampak yang positif bagi pengolahan panggilan maupun sikap yang ditumbuhkan pada masyarakat nantinya. Survive itulah yang diajarkan, aku dituntut untuk bisa mandiri, dewasa, bertahan hidup dalam kesulitan, mampu berpikir cerdas atau tidak ceroboh dalam bertindak. Kemampuan untuk berpikir cepat dengan meminimalkan resiko yang ada pun dilatih. Memang menjalani proses kaderisasi selama satu tahun tidaklah mudah, perlu perjuangan dan semangat yang besar. Bagiku ini sama halnya dalam proses panggilan yang tidak mudah untuk dijalani. Tantangan pasti selalu ada dalam hidup maupun dalam proses panggilan. Kemampuan untuk survive sangat diperlukan. Setiap hal yang kulakukan pun kurefleksikan untuk memperbaiki diriku semakin magis atau menjadi lebih baik lagi.
Kedatangan Motivator...
Suatu hari di tengah kesibukan ujian blok (mid semester), para seminaris mengikuti rekoleksi. Biasanya setiap kali rekoleksi yang membawakan adalah para rohaniwan khusunya, para frater, imam tetapi rekoleksi kali ini dibawakan oleh awam. Rekoleksi ini dilaksanakan dalam dua hari yang dimulai pada hari sabtu sore dan berakhir pada hari minggu siang. Rekoleksi ini sungguh berbeda dari rekoleksi biasanya. Dalam rekoleksi ini awam tersebut menyertainya dengan game dan film sebagai hiburan. Mungkin kegiatan ini bisa dikatakan bukan rekoleksi melainkan seminar mengenai “Sejauh mana kehidupan studiku saat ini?”. Orang yang membawakan rekoleksi tersebut adalah Stephanus Rizal yaitu seorang motivator di Indonesia yang sukses seperti Mario Teguh. Ia didampingi oleh satu rekannya yang juga sedang belajar bagaimana menjadi seorang motivator yang handal. Kali ini ia membagikan pengalaman suka maupun duka mengenai hidupnya. Sesungguhnya ia ingin mengajak para seminaris untuk tetap selalu bersemangat dan selalu bersyukur dalam menjalani hidup dan panggilan sebagai calon imam serta studi yang sedang dihadapi.
Mad (Make a difference,) itulah kata yang diungkapkan olehnya kepada kami para seminaris. Tentunya, kita sebagai pribadi harus mampu berbuat sesuatu yang berbeda dan tentunya harus positif serta tidak merugikan orang lain. “Pak Rizal” ,begitulah panggilannya. Tuhan memanggil dia untuk menjadi motivator . Dalam rekoleksi ini ia menunjukkan berbagai film yang bertujuan agar kita selalu bersyukur kepada Tuhan atas kehidupan yang telah DIA berikan.
Kemudian pak Rizal menunjukkan suatu aksi kepada para seminaris yaitu menjatuhkan bohlam lampu pada keramik dalam sebuah kotak. Kami terkejut bahwa bohlam itu tidak pecah. “kok bisa?” ,ungkap dalam pikiran kami masing-masing. Akhirnya seorang seminaris mencoba untuk menjatuhkan bohlam pada keramik. Awalnya bohlam selalu pecah ketika dijatuhkan tetapi pada percobaan yang kesekian kalinya bohlam tersebut tidak pecah ketika dijatuhkan. Sesungguhnya apa yang bisa membuat bohlam yang dijatuhkan tersebut tidak pecah?. Jawabannya adalah yaitu dengan kekuatan pikiran dan keyakinan dari dalam diri kita. Bagaimana kita membentuk mind set kita terhadap sesatu yang yang dilakukan?. Yang diperlukan adalah sebuah keyakinan bahwa kita bisa melakukan sesuatu yang kita anggap sulit. Jangan pernah ada keraguan dalam bertindak, karena terkadang keraguan membuat kegagalan terhadap apa yang kita lakukan. Ia juga mengungkapkan bahwa kita harus mempunyai impossible dream yaitu sesuatu yang tidak mungkin kita raih. Tetapi dari hal itu kita bisa terus bersemangat untuk meraih yang kita inginkan tersebut . Dan yang menjadi motivator bagi diri kita adalah diri kita sendiri, apakah kita mau atau tidak untuk meraih apa yang menjadi keinginan dan harapan kita. Dan yang menjadi dasar adalah penyerahan diri dan kepercayaan kita terhadap Tuhan bahwa DIA senantiasa memberikan yang terbaik bagi hidup kita.
Mad (Make a difference,) itulah kata yang diungkapkan olehnya kepada kami para seminaris. Tentunya, kita sebagai pribadi harus mampu berbuat sesuatu yang berbeda dan tentunya harus positif serta tidak merugikan orang lain. “Pak Rizal” ,begitulah panggilannya. Tuhan memanggil dia untuk menjadi motivator . Dalam rekoleksi ini ia menunjukkan berbagai film yang bertujuan agar kita selalu bersyukur kepada Tuhan atas kehidupan yang telah DIA berikan.
Kemudian pak Rizal menunjukkan suatu aksi kepada para seminaris yaitu menjatuhkan bohlam lampu pada keramik dalam sebuah kotak. Kami terkejut bahwa bohlam itu tidak pecah. “kok bisa?” ,ungkap dalam pikiran kami masing-masing. Akhirnya seorang seminaris mencoba untuk menjatuhkan bohlam pada keramik. Awalnya bohlam selalu pecah ketika dijatuhkan tetapi pada percobaan yang kesekian kalinya bohlam tersebut tidak pecah ketika dijatuhkan. Sesungguhnya apa yang bisa membuat bohlam yang dijatuhkan tersebut tidak pecah?. Jawabannya adalah yaitu dengan kekuatan pikiran dan keyakinan dari dalam diri kita. Bagaimana kita membentuk mind set kita terhadap sesatu yang yang dilakukan?. Yang diperlukan adalah sebuah keyakinan bahwa kita bisa melakukan sesuatu yang kita anggap sulit. Jangan pernah ada keraguan dalam bertindak, karena terkadang keraguan membuat kegagalan terhadap apa yang kita lakukan. Ia juga mengungkapkan bahwa kita harus mempunyai impossible dream yaitu sesuatu yang tidak mungkin kita raih. Tetapi dari hal itu kita bisa terus bersemangat untuk meraih yang kita inginkan tersebut . Dan yang menjadi motivator bagi diri kita adalah diri kita sendiri, apakah kita mau atau tidak untuk meraih apa yang menjadi keinginan dan harapan kita. Dan yang menjadi dasar adalah penyerahan diri dan kepercayaan kita terhadap Tuhan bahwa DIA senantiasa memberikan yang terbaik bagi hidup kita.
Durian Rp 5000
Januari merupakan bulan pertama dalam satuan tahun. Awal tahun yang penuh sukacita selalu membawa harapan pada diri kita masing-masing. Harapan yang selalu menuju kesuksesan dalam hidup. Sukses dalam arti, mampu mewujudkan apa yang dicita-citakan dan membentuk pribadi yang berkualitas, serta mampu menjadi teladan bagi orang lain.
Suatu malam, dua orang seminaris ingin pergi ke sebuah tempat foto copy untuk menjilid beberapa laporan ilmiah para seminaris kelas tiga. Dua orang seminaris tersebut bernama Edu dan Hena, layaknya panggilan di seminari. Mereka pun meminta izin kepada salah satu frater. Perizinan pun diberikan oleh frater , kemudian mereka segera pergi ke sebuah tempat foto copy yang tidak jauh dari seminari tempat kami tinggal. Tibalah mereka di sebuah tempat foto copy dan ternyata tempat tersebut tutup. Dengan perasaan terpaksa mereka harus mencari tempat foto copy lain. Untungnya, mereka tahu dimana tempat foto copy lainnya berada. Tibalah mereka di tempat foto copy yang kedua, ternyata tutup juga.
“Apes nih kita” , tutur Hena.
“Na, gimana kalau kita pergi ke tempat foto copy di Ampera?” ,tanya Edu.
“Jauh donk, okelah kalau begitu” ,jawab Hena.
Sesuai dengan kesepakatan mereka pergi ke Ampera untuk mencari tempat foto copy berikutnya. Dalam perjalanan, mereka saling berbagi cerita pengalaman. Mereka saling tukar pikiran layaknya orang berideologi. Tibalah mereka di tempat foto copy berikutnya dan ternyata tutup juga.
“Aduh sial banget sih, lagi-lagi tutup” , tutur Hhena (sambil mengusap wajah yang penuh keringat).
“Ya mau gimana lagi na?” , seru Edu.
“Du gimana kalau kita jalan lagi sampai Cilandak?” usul hena.
“Okelah kalau begitu” ,jawab Edu.
Hiruk-pikiuk jalanan membuat mereka putus asa mencari tempat foto copy. Akhirnya mereka kembali berjalan mencari tempat foto copy berikutnya. Debu yang bercampur keringat mengiringi mereka berjalan. Ketika mereka sedang berjalan, di seberang jalan mereka melihat penjual durian dengan harga murah.
“Du gimana kalau nanti kita beli durian setelah menjilid?” ,tanya Hena.
“Ya udah nanti kita patungan aja” ,jawab Edu.
“Ya udahlah, yang terpenting kita jilid dulu ini makalah” ,tutur Hena.
Mereka kemudian berjalan kembali dan akhirnya mereka menemukan sebuah tempat foto copy yang masih buka. Mereka pun segara member laporan ilmiah mereka untuk dijilid. Selesai dijilid mereka membayar biaya penjilidan kepada tukang foto copy tersebut.
“Murah juga ya du, hanya Rp 2500 setiap satuannya” ,sahut Hena.
“Itu mah standar na” ,tutur edu.
“Ya udah sekarang kita pulang ke seminari” ,tutur Edu.
“Ntar dulu lah, kita aja belum beli durian” ,tutur Hena.
“Owh iya ya, sorry gw lupa” ,tutur edu (sambil tertawa).
Mereka berjalan kembali ke arah sebaliknya. Kemudian mereka menghampiri penjual durian dan melihat-lihat durian mana yang bagus. Dengan keahlian yang tidak seberapa mereka memilih durian yang harganya Rp 5000. Mereka akhirnya membeli dua buah durian. Dengan perasaan riang mereka membawa durian itu pulang ke seminari. Selama perjalanan pulang banyak orang-orang di jalan yang melihat ke arah mereka. Mereka dengan cuek tetap berjalan dengan perasaan riang. Tibalah mereka di depan pos satpam seminari.
“Waduh enak tuh durian” ,sahut pak satpam.
“Iya nih pak, lagipula harganya juga murah cuma Rp 5000” ,sahut hena (sambil promosi).
Mereka akhirnya membawa pulang durian ke unit 1 dimana mereka tinggal. Mereka pun membangunkan teman-teman angkatannya untuk makan durian bersama. Di sana pun ada Vano, Bekti, Almo, dan Carol yang lagi demam durian. Dengan penuh semangat mereka turun dari kamar untuk makan durian.
“Kita buka yang ini dulu ya” seru Hena.
“Ya udah” ,jawab Vano (dengan tidak sabar).
Durian pertama rasanya lumayan enak meskipun harganya cuma Rp 5000. Kemudian mereka mulai membuka durian yang kedua.
“Waduh kulitnya masih keras nih” ,tutur Edu (sambil mencoba membuka).
“Ini mah masih keras tau” ,sahut Bekti.
“Berarti nggak kita makan donk nih durian” ,sahut Edu.
”Ya sia-sia donk beli yang satu ini” ,sahut Hena.
“Ya udahlah namanya juga durian seharga Rp 5000” ,sahut Carol.
“Kalau mau enak ya durian montong seharga Rp 40.000” ,sahut vano.
Melihat durian yang matang dan yang belum matang mereka menyimpulkan bahwa ini ini sama halnya dengan kepribadian orang yang dewasa dan belum dewasa. Mereka menyimpulkan bahwa pribadi yang dewasa adalah pribadi yang mampu membuka dirinya terhadap segala sesuatunya, terlebih terhadap panggilan dari Tuhan sendiri kepada umatnya. Hal itu sama dengan durian yang matang yang mudah dibuka dan bisa dimakan. Sebaliknya bahwa pribadi yang belum dewasa adalah pribadi yang belum membuka dirinya secara dalam terhadap segala sesuatunya terlebih panggilan dari Tuhan sendiri. Makanya hal tersebut sama dengan durian yang belum matang belum matang yang masih keras untuk dibuka. Ditambah masih memerlukan waktu yang lama untuk menjadi matang atau kemampuan seseorang untuk menjadi dewasa dalam menanggapi panggilan dari Tuhan.
Suatu malam, dua orang seminaris ingin pergi ke sebuah tempat foto copy untuk menjilid beberapa laporan ilmiah para seminaris kelas tiga. Dua orang seminaris tersebut bernama Edu dan Hena, layaknya panggilan di seminari. Mereka pun meminta izin kepada salah satu frater. Perizinan pun diberikan oleh frater , kemudian mereka segera pergi ke sebuah tempat foto copy yang tidak jauh dari seminari tempat kami tinggal. Tibalah mereka di sebuah tempat foto copy dan ternyata tempat tersebut tutup. Dengan perasaan terpaksa mereka harus mencari tempat foto copy lain. Untungnya, mereka tahu dimana tempat foto copy lainnya berada. Tibalah mereka di tempat foto copy yang kedua, ternyata tutup juga.
“Apes nih kita” , tutur Hena.
“Na, gimana kalau kita pergi ke tempat foto copy di Ampera?” ,tanya Edu.
“Jauh donk, okelah kalau begitu” ,jawab Hena.
Sesuai dengan kesepakatan mereka pergi ke Ampera untuk mencari tempat foto copy berikutnya. Dalam perjalanan, mereka saling berbagi cerita pengalaman. Mereka saling tukar pikiran layaknya orang berideologi. Tibalah mereka di tempat foto copy berikutnya dan ternyata tutup juga.
“Aduh sial banget sih, lagi-lagi tutup” , tutur Hhena (sambil mengusap wajah yang penuh keringat).
“Ya mau gimana lagi na?” , seru Edu.
“Du gimana kalau kita jalan lagi sampai Cilandak?” usul hena.
“Okelah kalau begitu” ,jawab Edu.
Hiruk-pikiuk jalanan membuat mereka putus asa mencari tempat foto copy. Akhirnya mereka kembali berjalan mencari tempat foto copy berikutnya. Debu yang bercampur keringat mengiringi mereka berjalan. Ketika mereka sedang berjalan, di seberang jalan mereka melihat penjual durian dengan harga murah.
“Du gimana kalau nanti kita beli durian setelah menjilid?” ,tanya Hena.
“Ya udah nanti kita patungan aja” ,jawab Edu.
“Ya udahlah, yang terpenting kita jilid dulu ini makalah” ,tutur Hena.
Mereka kemudian berjalan kembali dan akhirnya mereka menemukan sebuah tempat foto copy yang masih buka. Mereka pun segara member laporan ilmiah mereka untuk dijilid. Selesai dijilid mereka membayar biaya penjilidan kepada tukang foto copy tersebut.
“Murah juga ya du, hanya Rp 2500 setiap satuannya” ,sahut Hena.
“Itu mah standar na” ,tutur edu.
“Ya udah sekarang kita pulang ke seminari” ,tutur Edu.
“Ntar dulu lah, kita aja belum beli durian” ,tutur Hena.
“Owh iya ya, sorry gw lupa” ,tutur edu (sambil tertawa).
Mereka berjalan kembali ke arah sebaliknya. Kemudian mereka menghampiri penjual durian dan melihat-lihat durian mana yang bagus. Dengan keahlian yang tidak seberapa mereka memilih durian yang harganya Rp 5000. Mereka akhirnya membeli dua buah durian. Dengan perasaan riang mereka membawa durian itu pulang ke seminari. Selama perjalanan pulang banyak orang-orang di jalan yang melihat ke arah mereka. Mereka dengan cuek tetap berjalan dengan perasaan riang. Tibalah mereka di depan pos satpam seminari.
“Waduh enak tuh durian” ,sahut pak satpam.
“Iya nih pak, lagipula harganya juga murah cuma Rp 5000” ,sahut hena (sambil promosi).
Mereka akhirnya membawa pulang durian ke unit 1 dimana mereka tinggal. Mereka pun membangunkan teman-teman angkatannya untuk makan durian bersama. Di sana pun ada Vano, Bekti, Almo, dan Carol yang lagi demam durian. Dengan penuh semangat mereka turun dari kamar untuk makan durian.
“Kita buka yang ini dulu ya” seru Hena.
“Ya udah” ,jawab Vano (dengan tidak sabar).
Durian pertama rasanya lumayan enak meskipun harganya cuma Rp 5000. Kemudian mereka mulai membuka durian yang kedua.
“Waduh kulitnya masih keras nih” ,tutur Edu (sambil mencoba membuka).
“Ini mah masih keras tau” ,sahut Bekti.
“Berarti nggak kita makan donk nih durian” ,sahut Edu.
”Ya sia-sia donk beli yang satu ini” ,sahut Hena.
“Ya udahlah namanya juga durian seharga Rp 5000” ,sahut Carol.
“Kalau mau enak ya durian montong seharga Rp 40.000” ,sahut vano.
Melihat durian yang matang dan yang belum matang mereka menyimpulkan bahwa ini ini sama halnya dengan kepribadian orang yang dewasa dan belum dewasa. Mereka menyimpulkan bahwa pribadi yang dewasa adalah pribadi yang mampu membuka dirinya terhadap segala sesuatunya, terlebih terhadap panggilan dari Tuhan sendiri kepada umatnya. Hal itu sama dengan durian yang matang yang mudah dibuka dan bisa dimakan. Sebaliknya bahwa pribadi yang belum dewasa adalah pribadi yang belum membuka dirinya secara dalam terhadap segala sesuatunya terlebih panggilan dari Tuhan sendiri. Makanya hal tersebut sama dengan durian yang belum matang belum matang yang masih keras untuk dibuka. Ditambah masih memerlukan waktu yang lama untuk menjadi matang atau kemampuan seseorang untuk menjadi dewasa dalam menanggapi panggilan dari Tuhan.
Langganan:
Komentar (Atom)
